Logo Bloomberg Technoz

Pada Selasa lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) membuka investigasi terhadap praktik perdagangan Brasil atas arahan Trump, guna menyelidiki apakah Brasil secara tidak adil membatasi ekspor dari AS.

Namun kasus Brasil dinilai unik. Sebagai ekonomi terbesar di Amerika Latin, Brasil justru mengalami defisit perdagangan dengan AS—berbeda dari target tarif Trump lainnya yang memiliki surplus besar. Presiden Lula yang kini berusia 79 tahun juga belum menunjukkan tanda-tanda akan tunduk pada tekanan AS.

Lula, mantan pemimpin serikat buruh yang dikenal luas hanya dengan satu nama, justru memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan kembali basis pendukung progresifnya di tengah penurunan popularitas. Ia kini tampil hampir setiap hari di media nasional, menuduh lawan-lawan politiknya mencoba melibatkan campur tangan asing dan berjanji akan mempertahankan kedaulatan nasional.

“Kami tidak ingin bertarung, tapi kami juga tidak akan lari,” ujar Lula saat berkunjung ke negara bagian Bahia, Kamis. “Brasil hanya punya satu pemilik: rakyat Brasil.”

Pertarungan ini sangat personal bagi Lula, yang memenangkan pemilu secara tipis dari Bolsonaro kurang dari tiga tahun lalu. Beberapa hari setelah pelantikannya pada 2023, para pendukung Bolsonaro menyerbu ibu kota Brasilia dan merusak gedung-gedung pemerintahan karena percaya, tanpa dasar, bahwa pemilu telah dicurangi.

Bolsonaro, mantan kapten militer dan pengagum Trump sejak lama, membantah terlibat dalam serangan tersebut. Namun ia dan sekutunya telah menyebarkan klaim tak berdasar mengenai integritas sistem pemilu Brasil, yang kemudian memicu kemarahan massa.

Setelah tak lagi menjabat, masalah hukum Bolsonaro semakin membesar hingga menyebabkan ia dilarang mencalonkan diri dalam jabatan publik. Di Washington, putranya yang juga anggota parlemen, Eduardo Bolsonaro, aktif melobi pemerintahan Trump agar bertindak terhadap Mahkamah Agung Brasil.

Keluarga Bolsonaro secara khusus menaruh kebencian pada Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes, yang memimpin persidangan Bolsonaro dan telah menjatuhkan hukuman penjara kepada ratusan perusuh. De Moraes juga mempelopori upaya membersihkan internet Brasil dari ujaran kebencian dan disinformasi—langkah yang mendapat kritik tajam dari pemilik platform X, Elon Musk, serta Trump.

Dalam suratnya, Trump mengecam pemerintah Brasil sebagai “rezim sensor yang konyol.” Eduardo Bolsonaro bahkan mendorong agar pejabat Trump menjatuhkan sanksi terhadap De Moraes, dengan tuduhan membungkam suara konservatif.

“Segalanya sedang terjadi saat ini,” ujar Eduardo dalam video yang direkam di depan Gedung Putih dan dipublikasikan di media sosial, Rabu. “Keputusan sedang dibuat.”

Namun ancaman tindakan lebih lanjut dari AS justru membuat sikap Lula semakin tegas. Dalam pidato kenegaraan Kamis malam, ia mengecam politisi Brasil yang mendukung langkah Trump sebagai “pengkhianat” dan menyerukan persatuan nasional.

“Mereka hidup dari kekacauan dan percaya bahwa semakin buruk keadaannya, semakin baik bagi mereka,” ujar Lula. “Kami berdiri teguh untuk membela Brasil. Dan kami akan melakukannya dengan kepala tegak.”

(bbn)

No more pages