Selain itu, layanan 24 jam tujuh hari menjadi akar penting sistem peringatan dini cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami. Gangguan ini dapat menimbulkan potensi meningkatkan risiko bencana.
Dwikorita juga menjelaskan alokasi pemeliharan alat operasional sejak tahun 2023 terus menurun. Ia mengungkapkan anggaran pada tahun 2023 mencapai Rp700 miliar, kemudian menurun di tahun anggaran 2024 menjadi sebesar Rp610 miliar.
Sementara itu, pada tahun 2026 alokasi anggaran hanya 30% dari kebutuhan sebesar Rp210,7 miliar. Padahal, alat-alat pendeteksi dan pemantau dikelola BMKG jumlahnya terus bertambah dari bantuan global.
Sementara itu, dia juga membeberkan bahwa pengelolaan operasional modifikasi cuaca juga mencatatkan penurunan anggaran meski saat ini hal tersebut sangat dibutuhkan mengingat hal tersebut menjadi pos anggaran yang penting untuk mengurangi bencana yang saat ini tengah kerap terjadi.
Ia mengatakan bahwa untuk pos tersebut pada tahun2025, BMKG mendapatkan alokasi sebesar Rp8,3 miliar, sedangkan pada tahun 2026 hanya mendapatkan Rp5,4 miliar.
“Untuk sekali penerbangan dibutuhkan lebih Rp250 juta. Sekitar 4-20 kali penerbangan kadang-kadang modifikasi penerbangan dan mencegah banjir itu sehari bisa 6 hari kali penerbangan,”urainya.
(ell)




























