Logo Bloomberg Technoz

Animo investor yang besar di pasar obligasi negara, berkebalikan dengan pasar saham yang sejak pagi tadi cenderung tertekan. IHSG masih di zona merah, tergerus 0,4% jelang penutupan pasar satu jam mendatang.

Sedangkan yield SBN tenor di atas 2 tahun cenderung turun terutama tenor 4 tahun yang terpangkas 3 basis poin. Tenor acuan 10 tahun juga turun 2,6 basis poin kini di 6,748%.

Adapun tenor 2 tahun, mencatat kenaikan imbal hasil 3,5 basis poin, kini ada di 6,249%.

Pada lelang sukuk negara (SBSN) kemarin, nilai penawaran masuk menyentuh level tertinggi tahun ini sebesar Rp36,89 triliun. 

Animo yang membesar itu kemungkinan didorong oleh spekulasi adanya penurunan BI rate pekan depan ketika Dewan Gubernur Bank Indonesia menggelar pertemuan untuk edisi Juni.

BI rate sudah dipangkas sebesar 25 basis poin pada pertemuan Mei lalu.

Dalam pernyataannya ketika mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perekonomian RI membutuhkan upaya penguatan serta suku bunga yang lebih rendah ke depan.

Beberapa indikator ekonomi pada kuartal II ini, menurut Perry, menunjukkan kebutuhan dukungan kebijakan yang lebih akomodatif. 

"Ke depan, BI akan terus mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasaran, menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental serta mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan domestik," kata Gubernur Perry.

Analis menilai peluang BI rate kembali dipangkas akan kian besar bila data inflasi inti AS nanti malam lebih kecil dari 0,25%, BI bisa memangkas bunga acuan lebih cepat memanfaatkan tren bearish dolar AS di pasar global.

Sebaliknya, "Bila inflasi inti CPI Amerika terakselerasi akibat tarif menjadi 0,35% atau lebih tinggi, maka  pemangkasan suku bunga BI akan menjadi sangat berisiko [bagi rupiah] dengan potensi penguatan indeks dolar kembali ke level 100," kata Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.

Rupiah telah mencetak penguatan 1,85% selama kuartal II ini dan memperkecil kerugian sepanjang tahun menjadi tinggal 0,97% year-to-date.

Rupiah sempat menjebol level terlemah dalam sejarah pada 9 April lalu di Rp16.957/US$ akibat guncangan pasar yang dipicu oleh pengumuman tarif AS. Level itu mencerminkan pelemahan 5,3% dibanding posisi penutupan akhir 2024 silam.

(rui)

No more pages