Selain itu, jurus terbaru yang baru diumumkan tadi malam, di mana perbankan diminta turun tangan menggarap proyek 3 juta rumah dengan sokongan Bank Indonesia, akan dicermati oleh pasar yang masih waspada mengingat proyek infrastruktur era Presiden Joko Widodo yang telah membuat BUMN karya terjerat skandal utang dan memberi eksposur negatif juga pada bank-bank BUMN yang terlibat.
Pasar akan menunggu skema seperti apa yang akan dijalankan terkait program tersebut. BI telah menyiapkan tambahan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial yang saat ini sebesar Rp23,19 triliun, dikerek naik menjadi Rp80 triliun secara bertahap, khusus untuk mendukung program 3 juta rumah.
Ada potensi penguatan
Apabila melihat lanskap pasar global, rupiah masih berpeluang menguat.
Tadi malam indeks dolar AS memang melemah ke level 107,96. Pelemahan indeks dolar AS itu memberi ruang sedikit leluasa pada rupiah. Itu yang terlihat dari pergerakan rupiah di pasar forward.
Kemarin rupiah NDF ditutup melemah tipis di Rp16.369/US$. Level itu lebih kuat dibanding posisi penutupan pasar spot di Rp16.375/US$.
Pagi ini, rupiah NDF bergerak di Rp16.366/US$, menyiratkan masih ada peluang penguatan bagi rupiah spot pagi ini.
Namun, berbagai sentimen negatif yang disebutkan sebelumnya mungkin akan menjadi penghadang penguatan menjadi lebih terbatas.
Pada pembukaan pasar Asia pagi ini, sebagian besar mata uang Asia melemah. Yen turun nilainya 0,33%, won juga melemah tipis 0,07%, dolar Singapura 0,01%, yuan offshore serta dolar Hong Kong juga melemah. Hanya ringgit yang menguat, itupun tipis 0,01%.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah, laju pelemahan sudah terbatas di kisaran sempit. Level support terdekat yang perlu dicermati ada di Rp16.390/US$. Lalu, target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.400/US$.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.450/US$ sampai dengan Rp16.480/US$ sebagai support terkuat.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp16.350/US$ dan selanjutnya Rp16.300/US$.
Sinyal Powell
Di hadapan Kongres AS, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menegaskan kembali pesan utamanya sejak dua minggu lalu, ketika The Fed mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah setelah memotong kumulatif sebesar 1 poin persentase pada akhir tahun lalu.
Ia mengatakan, setelah langkah tersebut, kebijakan "secara signifikan jauh lebih longgar," dan para pembuat kebijakan "tidak perlu terburu-buru untuk menyesuaikan" suku bunga lebih lanjut pada saat ini.
Powell memberikan amunisi pada para pengkritik fiskal, memberi tahu anggota parlemen bahwa "tidak ada waktu yang lebih baik daripada saat ini" untuk mulai menempatkan anggaran AS di jalur yang berkelanjutan.
Meski dia pernah mengucapkan komentar serupa sebelumnya, pernyataannya muncul saat anggota DPR dan Senat dari Partai Republik bertikai; apakah akan memprioritaskan pemotongan defisit atau pajak.
Sinyal yang tidak terlalu dovish itu telah membuat imbal hasil Treasury makin melonjak tinggi. Selanjutnya, pasar akan menanti rilis data inflasi Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika nanti malam dan disusul inflasi CPI esok harinya.
Dari dalam negeri, pasar akan mencermati data penjualan ritel terakhir melalui Survei Penjualan Eceran yang akan dilansir oleh Bank Indonesia jelang siang nanti.
(rui)






























