Sementara itu, para investor bergerak menaikkan tingkat imbal hasil Treasury, surat utang AS, di hampir semua tenor. Yield pendek 2Y naik 6,2 basis poin ke level 4,268%. Lalu tenor 10Y juga naik 4,5 basis poin jadi 4,561%.
Kenaikan imbal hasil Treasury mempersempit selisih imbal hasil dengan surat utang RI menjadi tinggal 240 basis poin.
Lanskap ketegangan yang meruyak di hampir semua pasar keuangan di dunia, kemungkinan akan membuat sentimen risk-off menjalar juga di pasar domestik hari ini. Risk-off berarti kecenderungan investor dan trader menghindari aset-aset yang lebih berisiko seperti saham, juga mata uang dengan yield tinggi dan risiko lebih tinggi seperti valuta emerging market. Juga, surat utang pasar negara berkembang yang memberi imbal hasil tinggi.
Pekan lalu memang pasar juga ditutup tidak dalam kondisi terbaik, bahkan ketika data inflasi PCE Amerika sesuai ekspektasi pasar.
Indeks saham di Wall Street ditutup merah pada Jumat. Yield Treasury bergerak variasi di mana tenor pendek turun sedikit 1 bps untuk tenor 2Y jadi 4,197%. Namun, tenor panjang 10Y naik 2,2 bps jadi 4,539%.
Indeks dolar AS ditutup menguat di 108,370. Dalam sepekan lalu, indeks dolar AS telah menguat 0,86%.
Laporan PCE pada Jumat cukup melegakan di mana angka inflasi inti PCE sesuai ekspektasi meski lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Menurut kajian Bloomberg Economics, laporan PCE masih melegakan The Fed karena laju inflasi inti bulanan masih sejalan dengan target inflasi 2%.
Namun, perang tarif terbuka AS versus negara-negara yang ia bidik, akan memantik ketidakpastian makin tinggi di pentas perdagangan global yang bisa memicu efek domino.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini, dan juga dalam sepekan perdagangan. Level support terdekat rupiah ada di Rp16.350/US$, juga ada di Rp16.380/US$.
Apabila dua level itu jebol, rupiah berpotensi melemah makin dalam menuju level Rp16.400/US$ sebagai support terkuat.
Adapun dalam tren jangka menengah (Mid-term), rupiah berpotensi untuk tren pelemahan dengan level support menarik dicermati ada di Rp16.410/US$ dan Rp16.450/US$ sebagai support paling krusial.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan, resistance menarik dicermati pada level Rp16.250/US$ dan selanjutnya Rp16.200/US$ sebagai resistance potensial.
Dana asing hengkang
Sepekan lalu, rupiah telah kehilangan nilai 0,78% di tengah penguatan indeks dolar AS. Para pemodal asing tercatat melepas posisi di berbagai aset keuangan Indonesia. Laporan Bank Indonesia, pada perdagangan di pekan pendek lalu yakni hingga data setelmen tanggal 30 Januari, investor asing tercatat jual neto sebesar Rp820 miliar.
Terdiri atas, jual neto sebesar Rp400 miliar di pasar saham lalu jual neto Rp430 miliar di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan beli neto Rp5 miliar di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Alhasil, selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 30 Januari 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp1,72 triliun di pasar saham, beli neto sebesar Rp2,11 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp12,93 triliun di SRBI.
Dengan lanskap ketegangan geopolitik yang kian tinggi, kalender ekonomi pekan ini sejatinya juga padat oleh berbagai jadwal rilis berbagai data ekonomi penting yang menentukan prospek kebijakan ekonomi ke depan.
Dari Negeri Paman Sam, setelah pekan lalu telah dirilis laporan pengeluaran dan belanja pribadi, telah dirilis berikut angka inflasi yang sangat dicermati, pekan ini akan ada laporan pekerjaan AS yang juga menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Sejumlah pejabat Federal Reserve juga dijadwalkan menghadiri dan bicara di berbagai forum sepanjang pekan ini. Komentar mereka akan dinanti sebagai bagian dari upaya pasar mencari petunjuk arah kebijakan bunga ke depan.
Manufaktur bangkit
Tekanan yang akan dihadapi oleh rupiah pada hari ini akibat sentimen pasar global, mungkin akan sedikit terbantu oleh kabar baik dari kebangkitan aktivitas manufaktur domestik.
S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan dalam Purchasing Managers' Index (PMI) di Indonesia untuk periode Januari tercatat 51,9.
Angka itu naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,2 dan menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024 atau 10 bulan terakhir.
PMI di atas 50 menandakan aktivitas sedang berada di fase ekspansi, bukan kontraksi.
"Sektor manufaktur Indonesia mengawali 2025 dengan solid. Produksi dan pemesanan baru (new orders) kembali meningkat, dan dunia usaha menambah tenaga kerja dengan laju tercepat dalam 2,5 tahun terakhir," sebut keterangan tertulis S&P Global.
Paul Smith, Direktur Ekonomi di S&P Global Market Intelligence, menyatakan ekspansi manufaktur yang lebih cepat pada Januari ditopang oleh peningkatan produksi. Dengan optimisme dunia usaha, produksi diperkirakan tetap naik seiring membaiknya permintaan.
"Dunia usaha juga meningkatkan pembelian bahan baku dan meningkatkan inventori mereka karena yakin terhadap permintaan ke depan. Peningkatan permintaan bahan baku membuat harga naik sehingga ikut mengerek biaya produksi. Akan tetapi, dunia usaha masih belum yakin untuk mentransmisikan kenaikan biaya produksi ke harga jual produk di tingkat konsumen," papar Smith.
Hari ini, BPS juga akan melaporkan data inflasi bulan Januari. Hasil konsensus 17 ekonom yang dikompilasi oleh Bloomberg menghasilkan perkiraan median inflasi IHK pada Januari naik 0,35% month-on-month, melambat dibanding Desember di angka 0,44%.
Secara tahunan, berdasarkan konsensus 26 ekonom sampai Senin pagi, memperkirakan inflasi IHK pada Januari tercatat sebesar 1,86%, artinya terjadi kenaikan dibanding bulan Desember di 1,47%.
Sedangkan inflasi inti IHK bulan lalu diperkirakan naik jadi 2,29% year-on-year, lebih tinggi dibanding Desember sebesar 2,26%.
-- update tambahan analisis teknikal, juga data PMI manufaktur dan prediksi inflasi Januari.
(rui)



























