Penurunan ini melanjutkan tren selama dua setengah tahun di mana tingkat emisi cenderung stagnan atau menurun, setelah sempat melonjak pasca penandatanganan Perjanjian Iklim Paris (Paris Agreement) pada 2015.
Menurut Lauri Myllyvirta, analis utama di CREA, emisi China turun sebesar 0,5% dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Faktor pendorong utamanya adalah penerapan energi terbarukan secara masif, yang membantu China memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat tanpa harus semakin bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara.
Pekan lalu, Badan Energi Nasional atau National Energy Administration (NEA) China menyatakan batu bara menyumbang kurang dari separuh total pembangkitan listrik selama sembilan bulan pertama tahun ini—angka yang turun drastis dibandingkan dengan hampir 70% pada satu dekade lalu.
Penurunan tajam emisi pada kuartal ketiga didorong oleh harga bahan bakar minyak (BBM) yang lebih tinggi, yang menguntungkan kendaraan listrik—termasuk truk listrik untuk keperluan berat—hingga mencakup 50% dari penjualan baru pada September.
Harga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya untuk produk petrokimia seperti plastik, sehingga memangkas permintaan dan membantu menekan pertumbuhan di sektor batu bara-menjadi-bahan kimia yang sangat mencemari lingkungan.
Faktor cuaca turut berperan; musim panas yang relatif sejuk membantu meredam permintaan akan AC, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama penggunaan listrik.
Konsumsi listrik rumah tangga telah turun selama empat bulan berturut-turut—penurunan beruntun terlama dalam data NEA sejak 2009.
(bbn)































