Logo Bloomberg Technoz

Ekonom LPEM UI Teuku Riefky menambahkan, kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal III-2026 menunjukkan dinamika di tengah tekanan domestik dan tantangan eksternal. Penilaian terhadap aktivitas ekonomi mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan masih ditopang oleh beberapa sektor vital, meski dibayangi oleh melambatnya tingkat konsumsi masyarakat dan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, kepercayaan masyarakat cenderung melandai. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) rata-rata tercatat sebesar 117,8 pada kuartal III-2026, lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Penurunan kepercayaan ini paling dirasakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah akibat tekanan harga pangan, seperti daging ayam, beras, dan cabai, yang memicu kenaikan inflasi pada Agustus dan September.

Kondisi ini tercermin dari pelemahan pertumbuhan kredit konsumsi serta kredit kepemilikan rumah. Di sisi perbankan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,06%, namun porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk tabungan justru menurun, menandakan masyarakat mulai menggunakan simpanan untuk memenuhi kebutuhan harian.

Sebaliknya, aktivitas investasi dan penyaluran kredit ke sektor usaha mencatatkan kinerja yang cukup kuat. Pertumbuhan kredit bertahan di level dua digit, yang didorong oleh lonjakan kredit investasi di sektor konstruksi serta kredit modal kerja untuk sektor ketenagalistrikan.

Realisasi investasi kuartal III 2026 mencapai Rp528,7 triliun atau naik 7,6% secara tahunan, di mana penanaman modal asing (PMA) tumbuh pesat berkat ekspansi hilirisasi industri logam dasar di kawasan timur Indonesia serta pembangunan infrastruktur pusat data.

Sektor fiskal mencatatkan lonjakan penerimaan negara hingga 32,83% secara tahunan pada kuartal III 2026, yang disokong oleh penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta pendapatan non-pajak dari surplus Bank Indonesia dan denda sektor kehutanan.

Kendati demikian, porsi belanja negara mengalami pembengkakan signifikan, terutama untuk alokasi subsidi energi dan pelaksanaan program gizi nasional. Akselerasi belanja pusat ini memperlebar defisit APBN kumulatif hingga akhir September, sementara alokasi transfer dana ke daerah masih tertahan.

Pada perdagangan luar negeri, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus setelah sempat mengalami defisit di awal tahun. Kenaikan harga komoditas utama seperti kelapa sawit, nikel, dan batu bara mendorong nilai ekspor, sementara nilai impor mengalami penurunan seiring meredanya aktivitas manufaktur domestik.

Di pasar keuangan, stabilitas sempat terjaga berkat tingginya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah. Namun, tekanan berat melanda pada pertengahan Oktober 2026 akibat pengumuman konsultasi MSCI terkait wacana reklasifikasi status pasar modal Indonesia, yang memicu koreksi tajam pada pasar saham dan menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

(lav)

No more pages