"Dalam satu porsi itu Rp15.000. Ada porsi bahan baku Rp10.000. Bahan bakunya berupa karbohidrat, sayur, buah, protein hewani, protein nabati, dan lain sebagainya. Kalau dikalikan dengan 58 juta penerima manfaat, ini menjadi peluang yang sangat besar bagi pelaku usaha pertanian," ujarnya.
Sudaryono berharap, kebutuhan pangan dalam program MBG juga dapat membantu menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen. Ketika harga komoditas turun, penyerapan melalui program MBG diharapkan dapat membantu menjaga pendapatan petani dan peternak.
"Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu semua meningkatkan produktivitas. Yakinlah bahwa MBG ini harus menjadi instrumen yang bisa mendistorsi stok dan harga pangan kita di lapangan, sehingga konsumennya tidak dirugikan, tetapi produsennya juga tidak boleh dirugikan," tegasnya.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian BGN adalah telur. Sudaryono mencontohkan, ketika harga telur mengalami penurunan, kebutuhan dapur MBG dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan penyerapan telur dari peternak. Karena itu, BGN telah mengarahkan dapur MBG agar lebih sering memasukkan telur ke dalam menu makanan penerima manfaat.
Selain telur, BGN juga mendorong peningkatan penggunaan susu segar dalam program MBG. Sudaryono menyebutkan, kebijakan komposisi susu kini diarahkan agar kandungan susu segar minimal mencapai 80%. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi susu dalam negeri.
"Kita memang punya tantangan karena susu segar kita baru bisa mencukupi 20% dari kebutuhan. Tetapi dengan aturan ini, kita ingin mendorong peningkatan produksi susu segar dalam negeri," ujarnya.
(dec/spt)





























