“Rakyat memahami pentingnya apa yang telah saya lakukan terhadap Iran,” kata Trump. “Anda tidak bisa membiarkan negara sponsor utama terorisme memiliki senjata nuklir. Iran adalah negara paling berbahaya di dunia, dan kami praktis telah menghancurkan mereka. Pekerjaan itu belum selesai, dan mungkin saya akan menyelesaikannya, mungkin juga tidak.”
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus salah satu negosiator senior dengan AS, mengatakan hasil pemilihan paruh waktu menunjukkan bahwa warga Amerika telah memberikan suara untuk menyatakan “TIDAK UNTUK PERANG”.
Ia memperingatkan AS akan datangnya “mimpi buruk” jika memutuskan kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.
Trump dan sejumlah pejabat, termasuk Wakil Presiden JD Vance, terdengar sedikit lebih lunak dalam menyikapi Iran pekan ini. Pernyataan tersebut turut mendorong harga minyak turun. Meski demikian, ketegangan antara kedua pihak yang berperang masih tinggi. Teheran mengatakan siap menghadapi serangan kapan saja dan akan membalasnya dengan keras.
“Pemilihan paruh waktu baru saja memberikan sinyal politik yang jelas bahwa masyarakat menentang perang. Namun, beberapa pekan ke depan tetap menyimpan risiko tinggi terjadinya eskalasi militer sebelum anggota Kongres yang baru dilantik,” kata Hamad Althunayyan, ilmuwan politik di Kuwait University sekaligus peneliti di Harvard. “Setelah Januari, saling lempar tanggung jawab antara presiden dan Kongres terkait perang dengan Iran merupakan skenario yang paling mungkin terjadi.”
Negara-negara Arab di kawasan Teluk merasa khawatir dan mendesak Trump agar memberikan lebih banyak waktu bagi jalur diplomasi. Negara-negara sekutu AS, seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi, menjadi sasaran ribuan serangan drone dan rudal Iran selama fase paling intens dalam perang, yakni sejak akhir Februari hingga gencatan senjata pada awal April.
Perundingan antara Iran dan AS yang dimediasi Qatar dan Pakistan hanya mencatat sedikit kemajuan dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, para pejabat Qatar memperkirakan kedua pihak akan menyampaikan tanggapan terhadap sejumlah usulan baru dalam satu atau dua hari ke depan, menurut laporan Bloomberg pada Selasa (3/11).
Kedua negara masih berbeda pendapat dalam sejumlah isu. Iran menginginkan AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya, sedangkan Washington menuntut konsesi terkait aktivitas nuklir Teheran.
Harga minyak kembali turun pada Rabu (4/11). Minyak mentah Brent diperdagangkan hampir 2% lebih rendah ke level US$101,70 per barel. Meski masih naik hampir 70% sepanjang tahun ini, terutama akibat perang dan serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, sejumlah pedagang menilai kemenangan Partai Demokrat akan menekan Trump agar menghindari eskalasi lebih lanjut.
“Pertanyaan besar saat ini adalah apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kebijakan luar negeri, khususnya terkait krisis di Timur Tengah,” kata Ole Sloth Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank AS. “Pasar tampaknya bertaruh bahwa Trump ingin mengakhiri konflik ini, sehingga membuka peluang tercapainya suatu kesepakatan.”
Pekan ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahannya telah memperoleh kewenangan lebih besar dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk mengupayakan perundingan damai. Menurut Pezeshkian, upaya tersebut dapat mencakup sejumlah isu yang sebelumnya dianggap Teheran “tidak dapat dinegosiasikan”.
Perang dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel menyerang sejumlah target di Iran dan menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Pada awalnya, pejabat AS memperkirakan perang akan berlangsung tidak lebih dari empat hingga enam pekan. Namun, Trump semakin frustrasi menghadapi ketahanan Iran. Teheran telah memicu kekacauan di kawasan Teluk Persia dan wilayah Timur Tengah yang lebih luas melalui serangan balasannya.
Lonjakan biaya bahan bakar, dengan harga solar di AS mencapai rekor tertinggi dan harga bensin rata-rata melampaui US$4 per galon, turut menjadi faktor utama yang membuat warga Amerika berbalik menentang konflik tersebut.
“Situasinya bisa berkembang ke dua arah,” kata Arman Mahmoudian, peneliti di University of South Florida. “Mengingat skala kekalahan elektoral Partai Republik tampaknya jauh melampaui perkiraan, Trump bisa saja mengambil sikap lebih agresif karena merasa tidak banyak lagi yang bisa hilang. Namun, ia juga dapat memilih pendekatan yang lebih hati-hati untuk mencegah posisi politiknya semakin melemah.”
(bbn)

























