Coal India Ltd, produsen batu bara terbesar di negara itu, serta Kementerian Energi dan Perkeretaapian belum menanggapi surel yang meminta komentar.
Krisis pasokan batu bara telah berdampak luas pada perekonomian selama beberapa bulan terakhir, menyebabkan pemadaman listrik dan meningkatkan biaya energi.
Rendahnya produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan tingginya permintaan listrik akibat cuaca panas semakin menambah tekanan pada jaringan listrik. Di sisi lain, kebijakan Coal India yang memprioritaskan pasokan untuk pembangkit listrik menyebabkan pabrik-pabrik kekurangan bahan bakar.
Persediaan memang berangsur pulih dalam dua minggu terakhir seiring turunnya suhu. Namun, stok batu bara masih di dekat level terendah dalam lima tahun terakhir, yakni hanya cukup untuk sekitar enam hari.
Kondisi ini membuat sistem kelistrikan rentan terhadap gangguan—seperti yang terjadi akibat Siklon Arnab bulan lalu—sekaligus mempersulit persiapan menghadapi musim panas.
Pemerintah biasanya mengharuskan pembangkit listrik memiliki cadangan sekitar tiga minggu, meski syaratannya bervariasi tergantung lokasi. Hampir setengah dari pembangkit listrik memiliki tingkat stok kritis, artinya mereka hanya memiliki kurang dari seperempat dari jumlah yang dibutuhkan.
Pemerintah berupaya menghindari krisis listrik menjelang Pemilu di beberapa negara bagian penting pada paruh pertama tahun depan, termasuk Uttar Pradesh—negara bagian terpadat di India yang juga menjadi medan pertarungan politik.
Coal India dan Indian Railways telah meningkatkan upaya untuk mencapai target Maret. Pengiriman perusahaan tambang milik negara naik ke rekor tertinggi bulan lalu, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Maret.
Lebih dari empat perlima dari jumlah tersebut disalurkan ke pembangkit listrik yang memasok jaringan listrik nasional. Perusahaan menyatakan tingkat produksi juga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa untuk Oktober.
Kapasitas angkutan kereta api juga semakin meningkat. Pada Oktober, perusahaan transportasi milik negara menyediakan gerbong 20% lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut sejumlah sumber, Kementerian Energi menargetkan peningkatan kapasitas sebesar 7% lagi pada Maret mendatang.
Membaiknya pasokan dan melemahnya permintaan listrik telah membantu menstabilkan pasokan listrik di berbagai wilayah, termasuk Chhattisgarh—daerah yang sempat mengalami pemadaman listrik di sektor industri bulan lalu.
Namun, kebijakan untuk memprioritaskan pembangkit listrik telah menyebabkan pengguna batu bara lainnya kesulitan mendapatkan pasokan.
Menurut Rajiv Agarwal, Sekretaris Jenderal Indian Captive Power Producers Association, pelaku usaha yang mengoperasikan pembangkit listrik sendiri harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat pasokan yang telah dikontrak.
Akibatnya, mereka terpaksa membeli batu bara dengan harga lebih tinggi melalui lelang pasar spot atau membeli listrik dari jaringan nasional.
Ia menambahkan bahwa situasi ini berpotensi memburuk seiring meningkatnya kabut asap di wilayah India bagian utara.
"Dalam beberapa minggu ke depan, seiring memburuknya kabut asap yang akan mengganggu lalu lintas kereta api, kami memperkirakan pasokan akan semakin ketat," ujar Agarwal.
Vijay Kumar, Sekretaris Jenderal Indian Newsprint Manufacturers Association, mengungkap produsen kertas koran hanya melihat sedikit perbaikan dalam ketersediaan batu bara untuk operasional mereka.
Bulan lalu, Kumar mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Narendra Modi, memohon "intervensi segera" untuk mengatasi krisis pasokan ini dengan mengurangi alokasi bahan bakar bagi pembangkit listrik.
(bbn)
































