Mulai dari pengalihan sebagian minyak ke pelabuhan-pelabuhan di luar Teluk Persia melalui jalur pipa hingga metode 'shuttling' (pengangkutan ulang-alik).
Shuttling, yang dipelopori oleh UEA, ialah taktik di mana kapal berlayar dalam jarak pendek—sering kali dengan transponder dimatikan agar tidak terdeteksi—sebelum memindahkan muatan mereka ke kapal lain tepat di luar wilayah teluk. Taktik ini kemudian diikuti oleh negara teluk lain, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
Arab Saudi
Per akhir Maret, Arab Saudi meningkatkan penggunaan pipa Timur-Barat (East-West pipeline) yang memiliki kapasitas penuh sebesar 7 juta bph. Kerajaan ini bahkan sedang mempertimbangkan untuk memperluas kapasitasnya.
Untuk kebutuhan ekspor, Saudi mengalirkan hampir 5 juta bph dari pusat produksi minyak menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Sementara itu, sisanya sebanyak 2 juta barel dialirkan ke kilang-kilang lokal di sepanjang pesisir.
Sebelum perang Iran pecah, jalur pipa ini hanya mengalirkan 2 juta bph minyak.
Saudi juga menawarkan pengiriman minyak dengan skema transfer antarkapal (ship-to-ship transfer) dari sejumlah lokasi, termasuk Sohar di Teluk Oman. Meski begitu, penawaran ini hanya ditujukan ke sejumlah kilang China.
Taktik lain juga dilakukan Saudi demi menghindari Selat Bab el-Mandeb, di mana Houthi Yaman sering melancarkan serangan.
Akhir Juli lalu, supertanker atau very large crude carrier (VLCC) minyak Saudi melintasi Terusan Suez di ujung utara Laut Merah, melewati Mediterania, lalu berlayar mengelilingi Afrika, untuk menjangkau pembeli Asia.
UEA
UEA juga memanfaatkan jalur pipa kecilnya sendiri menuju Fujairah di pesisir timur guna menghindari Selat Hormuz. Pada Juni, ekspor dari terminal Fujairah meningkat hingga hampir dua kali lipat dari level praperang.
Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), sebelum perang, jalur pipa ini mengalirkan minyak 1,1 juta bph, di mana sekitar sepertiga kapasitasnya tak terpakai.
Jalur pipa baru dijadwalkan rampung awal tahun depan, yang akan meningkatkan kapasitas transit Abu Dhabi menjadi sekitar empat juta barel per hari.
UEA juga tengah mempertimbangkan pembangunan jalur ketiga dan berencana memperluas pelabuhan di sepanjang pesisir timur negara secara besar-besaran. Rencana ini diprediksi secara drastis mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Rute alternatif yang dikembangkan oleh Arab Saudi dan UEA telah berperan penting dalam menjaga pasokan pasar tetap stabil dan mencegah lonjakan harga minyak yang lebih tajam.
Menurut Eurasia Group, investasi yang mereka lakukan dapat menekan volume aliran minyak melalui Selat Hormuz hingga kurang dari setengah tingkat sebelum perang pada 2030.
Kuwait
Kuwait bergantung sepenuhnya pada rute melalui Selat Hormuz guna mengekspor minyaknya. Penutupan total selat tersebut pada puncak perang menyebabkan tingkat produksi negara merosot ke angka terendah yang terakhir kali terlihat pada awal 1990-an.
Negara ini mulai mengangkut muatan dengan metode shuttling melalui Selat Hormuz sekitar Juni, dan terus meningkatkan volumenya meski ada risiko serangan dari Iran.
Irak
Irak menyalurkan sekitar 90% dari 3,7 juta barel ekspor minyak mentah per hari melalui Selat Hormuz pada 2025.
Sejak perang pecah, Irak telah mengekspor minyak melalui pipa Kirkuk—Ceyhan, yang menghubungkan Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan Turki di Mediterania.
Meski kapasitas teknis pipa tersebut sebesar 1,5 juta bph, hanya sekitar 180.000 bph yang berhasil diekspor pada Juni. Awal Agustus, Irak dan Turki sepakat untuk terus menggunakan pipa tersebut dan meningkatkan aliran melalui pipa itu.
Irak sendiri tengah mempertimbangkan untuk membangun kembali jalur pipa Kirkuk—Baniyas yang sudah tidak beroperasi selama lebih dari dua dekade. Jalur pipa ini menghubungkan ladang minyak Kirkuk di Irak dengan pesisir Mediterania di Suriah.
Baghdad juga sedang mengkaji potensi pembangunan jalur pipa dari wilayah penghasil minyak terbesar mereka, Basra di bagian selatan, menuju Haditha di bagian utara. Dari titik ini, jalur pipa akan diperluas ke arah Suriah, Turki, atau Yordania.
(ros/wdh)































