Logo Bloomberg Technoz

Dia juga meyakini tekanan operasional tersebut bakal membuat banyak alat berat di smelter yang berhenti dan berdampak langsung terhadap tenaga kerja di sektor hilir nikel.

Untuk itu, dia berharap terdapat diskusi yang digelar pemerintah bersama pelaku usaha untuk menemukan solusi terbaik ihwal pemangkasan produksi bijih nikel tahun depan.

“Saya kira Pak Bahlil betul perlu didiskusikan. Kan beliau mengatakan itu ya. Perlu duduk, diskusi antara pemerintah, pelaku usaha; supaya dapat jalan tengah agar supaya menguntungkan dua belah pihak,” tutur Arif.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menegaskan pemangkasan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal lebih ekstrem dibandingkan dengan tahun ini.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin mengatakan kuota produksi bijih nikel untuk 2027 bakal dirancang dengan mempertimbangkan kapasitas optimal smelter nikel.

Dia menjelasakan arah kebijakan tersebut berbeda dengan tahun ini, yakni kuota produksi bijih nikel ditetapkan mempertimbangkan kebutuhan pasokan dari smelter nikel.

Terlebih, kata Cecep, logam nikel di pasar Shanghai Future Exchange (SHFE) dan London Metal Exchange (LME) mengalami kelebihan pasokan atau oversupply hingga skeitar 800.000 metrik ton (mt) nikel (Ni).

"Karena dari pelaku usaha pun, seperti Huayou, mereka akan menurun kapasitas produksinya sampai dengan 50% termasuk juga Tsingshan dan lain juga akan menurunkan karena pasokan yang stok global yang tinggi," kata Cecep di sela Minerba Convex 2026, Selasa (3/11/2026).

"Nah, itu jadi kita mungkin berbeda dengan tahun kemarin, mungkin akan lebih ekstrem lagi penurunannya," tegas Cecep.

Kendati demikian, Cecep tidak menjelaskan lebih lanjut volume kuota produksi bijih nikel yang bakal ditetapkan untuk 2027.  

Cecep hanya menegaskan sejumlah perusahaan smelter nikel raksasa di Indonesia telah berencana menurunkan produksinya.

"Kalau misalnya kita ambil rumus 50% dari yang kapasitas mereka, kita bisa sesuaikan juga keutuhan pasnya berapa, yang terasang berapa, kita kurangi," ujar Cecep.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan sinyal bakal kembali memangkas kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027.

Bahlil mengungkapkan harga logam nikel dunia belakangan turun ke bawah US$16.000/mt, sebab terdapat kelebihan pasokan global di LME dan SHFE hingga 750.000 mt Ni.

Untuk itu, Bahlil memerintahkan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ti Winarno untuk mengendalikan suplai bijih nikel melalui instrumen RKAB.

“Jadi Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan supply and demand lewat RKAB untuk di nikel lakukan. Saya yang tanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara. Enggak usah ragu-ragu. Pasti banyak yang protes [jika kuota produksi dipangkas], saya tahu,” kata Bahlil dalam Minerva Convex 2026 hari pertama, Senin (2/11/2026).

Bahlil juga mengimbau kepada industri hulu dan hilir nikel untuk menahan diri agar tidak melakukan produksi secara berlebih.

Di sisi lain, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno memberikan sinyal kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal lebih rendah dari kuota RKAB 2026 hasil revisi sebesar 290—300 juta mt.

Alasannya, pada akhir tahun ini sejumlah smelter nikel bakal memangkas produksi, serta terdapat kelebihan pasokan logam nikel global.

Kendati begitu, dia belum dapat mengungkapkan besaran kuota produksi bijih nikel untuk RKAB 2027.

“Kemarin untuk nikel itu kan ada pembahasan yang terkait dengan stok yang ada di LME sama SHFE. Nah, itu kan over sekitar 750.000 ton. Nah, itu juga mesti kita exercise supaya nanti jangan sampai nanti produksi kita menambah lagi over-nya,” ujar Tri kepada awak media di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Kamis (29/10/2026).

Tri kembali menegaskan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal menekankan kestabilan dari pasar global dan kebutuhan bijih smelter domestik.

Dalam kesempatan itu, Tri mengungkapkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 hasil revisi mencapai 290—300 juta mt, naik dari kuota awal tahun sekitar 260–270 juta mt.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta mt sampai 270 juta mt, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta mt.

Nikel dilego di harga US$15.556/mt di LME hari ini, naik 1,87% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages