Perkembangan kedua indikator tersebut menunjukkan adanya perbaikan dalam pengelolaan portofolio kredit perseroan. Penurunan rasio kredit bermasalah juga menjadi bagian dari upaya bank dalam mengendalikan risiko perkreditan sekaligus menjaga kualitas aset produktif.
Dalam industri perbankan, kualitas kredit menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan bank menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan. Tingginya kredit bermasalah berpotensi meningkatkan beban pencadangan dan menekan profitabilitas.
Karena itu, perbaikan NPL menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam membaca perkembangan kinerja Bank Mayapada. Terlebih, peningkatan laba bersih yang dicapai perseroan berlangsung bersamaan dengan perbaikan kualitas kredit.
Aset Bank Mayapada Tumbuh 11,2%
Dari sisi ekspansi bisnis, Bank Mayapada juga mencatatkan pertumbuhan total aset hingga September 2026. Nilainya mencapai Rp171,8 triliun atau meningkat 11,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan posisi September 2025 sebesar Rp154,5 triliun.
Pertumbuhan aset tersebut menunjukkan peningkatan skala usaha perseroan. Perkembangan ini juga berjalan beriringan dengan penguatan struktur permodalan yang tercermin dari peningkatan total ekuitas.
Hingga September 2026, total ekuitas Bank Mayapada mencapai Rp19,07 triliun. Jumlah tersebut meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp17,02 triliun.
Penguatan ekuitas menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung aktivitas bisnis perbankan. Modal yang memadai diperlukan untuk menopang ekspansi usaha, mengantisipasi risiko, serta menjaga kemampuan bank dalam memenuhi ketentuan permodalan yang berlaku.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Mayapada tercatat sebesar 11,09% pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi September 2025 sebesar 10,09%.
Kenaikan CAR menunjukkan adanya peningkatan rasio permodalan perseroan dalam periode tahunan. Meski demikian, pengelolaan modal tetap menjadi perhatian seiring kebutuhan bank untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, pertumbuhan aset, dan mitigasi risiko.
Penghimpunan Dana Tumbuh 12,4%
Pada sisi pendanaan, Bank Mayapada juga mencatatkan peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Hingga September 2026, DPK perseroan mencapai Rp147,4 triliun, tumbuh 12,4% dibandingkan posisi September 2025 sebesar Rp131,1 triliun.
Pertumbuhan penghimpunan dana tersebut menunjukkan peningkatan dana masyarakat yang berhasil dihimpun perseroan. DPK merupakan salah satu sumber pendanaan utama bagi bank dalam menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung aktivitas penyaluran kredit.
Peningkatan DPK juga menjadi faktor penting dalam menjaga kapasitas pendanaan di tengah kebutuhan pengembangan bisnis. Dengan basis pendanaan yang semakin besar, bank memiliki ruang untuk mengelola kebutuhan likuiditas sekaligus mendukung kegiatan operasional.
Di sisi lain, Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Mayapada tercatat sebesar 77,45% pada September 2026. Rasio tersebut lebih rendah dibandingkan posisi September 2025 yang mencapai 80,17%.
Penurunan LDR menunjukkan perubahan perbandingan antara penyaluran kredit dan dana pihak ketiga yang dihimpun perseroan. Indikator ini menjadi salah satu instrumen untuk melihat pengelolaan likuiditas dan efektivitas fungsi intermediasi perbankan.
Dengan posisi LDR sebesar 77,45%, Bank Mayapada menunjukkan kondisi likuiditas yang tetap terjaga berdasarkan indikator tersebut. Pengelolaan likuiditas menjadi aspek penting untuk memastikan bank mampu memenuhi kebutuhan penarikan dana nasabah sekaligus menjalankan aktivitas pembiayaan.
Secara keseluruhan, kinerja Bank Mayapada hingga September 2026 memperlihatkan perkembangan positif pada sejumlah indikator keuangan. Pertumbuhan laba bersih sebesar 107% menjadi salah satu capaian utama, disertai penurunan NPL Gross dan NPL Net.
Di samping itu, pertumbuhan aset, ekuitas, dan DPK turut memperkuat gambaran perkembangan bisnis perseroan. Ketiga indikator tersebut menunjukkan peningkatan kapasitas usaha sekaligus penguatan sumber pendanaan dan struktur permodalan.
Ke depan, tantangan bagi Bank Mayapada adalah mempertahankan momentum pertumbuhan dengan tetap memperhatikan kualitas aset produktif. Ekspansi bisnis yang tidak diimbangi pengelolaan risiko berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kualitas kredit dan kebutuhan pencadangan.
Penguatan fundamental keuangan, penerapan prinsip kehati-hatian atau prudent banking, serta pengelolaan risiko perkreditan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kinerja.
Dengan sejumlah indikator yang menunjukkan perkembangan positif hingga September 2026, Bank Mayapada diharapkan dapat terus memperkuat daya saing dan menjaga kepercayaan nasabah serta para pemangku kepentingan di tengah persaingan industri perbankan nasional.
(tim)
































