Logo Bloomberg Technoz

Dari situ, pelemahan IHSG juga tersengat sentimen foreign outflow, investor asing gencar melangsungkan jual bersih (net sell) hingga November 2026 mencapai Rp126 triliun lebih secara year–to–date/ytd, ini merupakan keluarnya dana asing terbesar sejak 1998, melampaui sejumlah krisis yang pernah terjadi di Indonesia.

Terlebih lagi, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus lesu di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp18.148.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp11,72 triliun dari sejumlah 27,15 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi 1,38 juta kali jual–beli.

Tercatat hanya ada penguatan 57 saham, dan sebanyak–banyaknya 624 saham terjadi pelemahan. Sisanya 37 saham stagnan.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini, pelemahan saham Bank BRI, dan saham Bank BCA, utamanya. Diperberat lagi oleh saham–saham barang baku, saham energi, dan saham transportasi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 5,99%, 4,37% dan juga 3,91%.

Saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga menempati top losers:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membebani 26,81 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membebani 13,14 poin
  3. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 11,95 poin
  4. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani 10,99 poin
  5. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membebani 9,19 poin
  6. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membebani 5,73 poin
  7. PT Astra International Tbk (ASII) membebani 5,54 poin
  8. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membebani 5,49 poin
  9. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 5,05 poin
  10. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) membebani 4,36 poin

Sejumlah saham LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG ialah, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang turun 6,92%, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) ambles 6,91%, dan juga saham PT XLSmart Tbk (EXCL) melemah 6,81%.

Senada, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) drop 6,75%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melemah 6,72%. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terpeleset 6,57% hingga menjadi pemberat IHSG.

Ambrolnya IHSG hari ini tergencet usulan MSCI terhadap penurunan status pasar modal Indonesia, dari kategori pasar Emerging Market menjadi Standalone Market.

“Ancaman MSCI, risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone meningkatkan kekhawatiran investor terhadap transparansi kepemilikan dan penegakan hukum pasar modal,” mengutip Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya, Selasa (3/11/2026)

Senada, Panin Sekuritas menuturkan, penurunan signifikan IHSG terjadi seiring risiko geopolitik yang masih membayangi pasar global, sementara AS midterm election berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal dan sentimen pasar keuangan.

Tekanan inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah yang masih tinggi mempersempit fleksibilitas moneter Bank Indonesia (BI), di tengah meningkatnya risiko fiskal dan keterbatasan external buffer.

“Kami melakukan simulasi untuk IHSG berdasarkan komposisi kepemilikan data KSEI di Oktober 2026, di mana pada skenario dasar (base case) kami ada ruang bahwa IHSG dapat menyentuh 4.642,” analisis Panin Sekuritas.

Terlebih lagi mencermati skenario terburuk (bear/worst case) mengasumsi probabilita downgrade yang meningkat serta asumsi porsi dana asing keluar lebih tinggi, IHSG dapat menyentuh level 4.195.

Panin Sekuritas melihat sejumlah katalis negatif untuk IHSG pada bulan November 2026, tensi geopolitik yang masih akan tinggi khususnya setelah midterm election di AS, meningkatnya risiko gagal bayar perusahaan AI global, potensi downgrade obligasi Indonesia seiring melemahnya rupiah dan defisit yang masih lebar, serta potensi downgrade ke Standalone Market yang dapat memicu outflow hingga US$5-10 miliar.

(fad)

No more pages