Logo Bloomberg Technoz

Sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia, Aramco merupakan pilar utama industri Arab Saudi; pendapatan dari penjualan energi serta pembayaran dividen yang besar menopang kebutuhan belanja negara yang sangat tinggi.

Aramco menyatakan harga jual minyak pada kuartal tersebut 35% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba sebelum bunga dan pajak dari bisnis hilir—yang mencakup penyulingan dan perdagangan—melonjak lebih dari tiga kali lipat hingga mencapai rekor lebih dari US$10 miliar.

Perusahaan-perusahaan minyak global, mulai dari BP Plc, ExxonMobil Holdings Corp., hingga Chevron Corp., turut menikmati keuntungan dari lonjakan margin kilang selama kuartal tersebut.

Ekspor minyak Arab Saudi via Teluk Persia dan Laut Merah./dok. Bloomberg

Keuntungan besar yang diraup Aramco dari sektor penyulingan muncul di tengah perang di Timur Tengah dan Rusia, yang telah melumpuhkan sekitar 10% kapasitas produksi bahan bakar dunia.

Meskipun arus minyak mentah yang keluar dari Teluk Persia meningkat tajam, pengiriman produk minyak justru tertinggal, sehingga menjaga harga tetap tinggi dan mendatangkan keuntungan luar biasa bagi perusahaan kilang.

Pengiriman minyak mentah perusahaan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan upaya mereka untuk menyalurkan kargo dari pesisir timur maupun pesisir barat.

Berdasarkan data pelacakan kapal tanker yang dihimpun oleh Bloomberg, ekspor Arab Saudi bulan lalu tercatat naik kembali ke tingkat sebelum perang, yakni sekitar 7 juta barel per hari.

Produksi Minyak

Chief Executive Officer Amin Nasser menyatakan bahwa permintaan produk minyak diperkirakan meningkat sekitar 2,4 juta barel per hari pada tahun depan.

Selain itu, saat pasar kembali normal pasca-perang, diperkirakan ada tambahan permintaan sebesar 2 juta barel per hari untuk memulihkan cadangan—sebuah proses yang mungkin memakan waktu hingga dua tahun.

"Kami terus menjajaki kapasitas penyimpanan tambahan di luar negeri serta rute ekspor alternatif untuk semakin memperkuat jaringan pasokan global kami," ujarnya.

Nasser menambahkan bahwa perusahaan siap untuk meningkatkan produksi hingga kapasitas penuh sebesar 12 juta barel per hari, jika memang diperlukan.

Dia menyampaikan pandangan yang cukup berhati-hati mengenai kondisi pasar energi global yang masih rentan.

Dia pun kembali mengingatkan tingkat cadangan saat ini "sangat rendah", setelah serangkaian pelepasan cadangan strategis dilakukan untuk meredam gangguan pasokan akibat konflik yang terjadi.

Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi telah menghadapi serangkaian serangan dari kelompok militan Houthi asal Yaman, termasuk serangan terhadap kilang-kilang Aramco, sebuah ladang minyak utama, dan kantor pusat perusahaan tersebut.

Selain itu, jalur pipa vital Timur-Barat sempat mengalami kerusakan akibat serangan yang diluncurkan dari Irak pada bulan September, yang menyebabkan jalur tersebut harus ditutup selama beberapa hari.


Aramco mempertahankan dividen dasarnya sebesar $21,9 miliar secara kuartalan; jumlah pembayaran ini merupakan komponen krusial bagi keuangan publik Arab Saudi.

Pada kuartal ketiga, perusahaan menjual minyaknya dengan harga sekitar US$95,20 per barel, dibandingkan dengan US$70,10 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Rasio utang perusahaan (gearing) turun menjadi 5,5% pada akhir September, dari 6,2% pada akhir Juni.

Arus kas bebas (free cash flow)—yakni dana yang tersisa dari kegiatan operasional setelah dikurangi investasi dan berbagai pengeluaran—sebesar US$28,2 miliar, mencukupi untuk menutupi pembayaran dividen tersebut.

(bbn)

No more pages