Selain itu, menurutnya khusus komoditas yang rentan mengalami gejolak harga seperti cabai dan tomat, diperlukan dukungan rantai pendingin (cold chain), kontrak pasokan, hingga transportasi untuk mengantisipasi gangguan panen.
Sementara untuk mengendalikan tarif pesawat, pemerintah dinilai perlu memastikan ketersediaan penerbangan tambahan, slot bandara, kesiapan armada, hingga biaya avtur yang kompetitif.
Dia juga menilai insentif sementara pada biaya kebandarudaraan dapat dipertimbangkan untuk menekan tarif penerbangan, sepanjang manfaatnya benar-benar diteruskan kepada penumpang.
Di samping pengawasan harga tetap diperlukan untuk mencegah praktik kenaikan harga yang tidak wajar tanpa mengganggu mekanisme pasar.
"Kuncinya adalah intervensi dini, terukur, dan berbasis data. Kebijakan yang terlambat hanya memindahkan beban dari konsumen ke fiskal tanpa menyelesaikan akar masalah," jelas Syafruddin.
Meski demikian, Syafruddin menilai tekanan inflasi saat ini belum menunjukkan peningkatan permintaan secara luas. Sebab, hal tersebut tercermin dari inflasi inti yang masih berada di level 2,56%.
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh tiga kelompok. Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,82% dan memberi andil inflasi 1,40%.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi,” kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026).
Kedua, kelompok pengeluaran transportasi juga mendorong inflasi. Pada Oktober, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,87% dengan andil inflasi 0,59%. Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan pemeliharaan service, dan mobil.
Ketiga, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yakni mengalami inflasi mencapai 4,52% dan memberi andil 0,32%.
"Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan," tutur Ateng.
(lav)






























