Logo Bloomberg Technoz

Menurut ekonom Korea dan Taiwan Bloomberg Economics, Hyosung Kwon, perlambatan tipis inflasi umum sebagian dipengaruhi oleh efek basis terkait perayaan Chuseok. Hari raya besar tersebut biasanya mendorong peningkatan permintaan bahan pangan segar. Tahun ini, Chuseok jatuh pada September, sedangkan tahun lalu berlangsung pada Oktober. Perbedaan waktu tersebut membuat penurunan inflasi berpotensi terlihat lebih besar dibandingkan dengan meredanya tekanan harga yang mendasar, tambahnya.

Tekanan inflasi yang bertahan menjadi alasan utama Bank of Korea (BOK) mempertahankan kebijakan moneter ketat. Gubernur BOK Shin Hyun Song kembali menegaskan bahwa inflasi kemungkinan masih akan berada di atas target bank sentral sebesar 2 persen selama beberapa waktu. Kebijakan moneter juga akan tetap ketat hingga para pejabat yakin inflasi bergerak menuju target tersebut.

Bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di level 3 persen pada 22 Oktober melalui keputusan bulat, setelah menaikkannya masing-masing sebesar 0,25 poin persentase pada Juli dan Agustus. Proyeksi harga terbaru akan dirilis dalam rapat berikutnya pada 26 November.

Sebelumnya, BOK memperkirakan inflasi umum mencapai 2,7 persen tahun ini dan 2,3 persen pada 2027. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan sebesar 2,5 persen pada kedua tahun tersebut. Shin mengatakan inflasi inti tahun depan diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.

“Kami menilai tingginya inflasi sektor jasa mencerminkan dampak libur panjang sekaligus meningkatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan,” kata Jiuk Choi, ahli strategi makro Asia Pasifik di State Street Bank. “Secara keseluruhan, kami memperkirakan Bank of Korea akan merevisi naik proyeksi inflasi umum dan inti 2027 sebesar 10-20 basis poin, sekaligus menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan moneter November.”

Data inflasi tersebut dirilis ketika perekonomian Korsel menunjukkan kesenjangan yang semakin jelas antara sektor ekspor yang tumbuh pesat dan permintaan rumah tangga yang masih lemah. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 1 persen pada kuartal III dibandingkan kuartal sebelumnya, melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,8 persen. Investasi fasilitas melonjak 4,1 persen, tetapi konsumsi swasta turun 0,2 persen.

Perbedaan kinerja tersebut mempersulit arah kebijakan moneter. Ekspor dan investasi yang kuat mendukung alasan untuk menaikkan biaya pinjaman, tetapi lemahnya belanja rumah tangga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa luas tekanan harga yang dipicu permintaan telah menyebar.

Shin mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan akan jauh melampaui proyeksi BOK pada Agustus, masing-masing sebesar 3,3 persen dan 2,9 persen. Bank sentral memperkirakan permintaan semikonduktor akan menopang ekspor dan investasi, sementara peningkatan pendapatan secara bertahap akan mendukung konsumsi.

Ekspor yang disesuaikan dengan perbedaan jumlah hari kerja naik sekitar 76 persen pada Oktober dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah meningkat 104,9 persen pada September. Pengiriman semikonduktor melonjak 259 persen menjadi US$56,4 miliar, membuat Korea Selatan berada di jalur untuk mencatat nilai ekspor tahunan lebih dari US$1 triliun untuk pertama kalinya.

Penguatan nilai tukar won turut membantu menekan inflasi impor. Shin menyambut penguatan mata uang lebih lanjut karena dinilai dapat meningkatkan daya beli rumah tangga sekaligus membantu mengendalikan harga.

Kenaikan IHK terutama didorong oleh harga transportasi yang meningkat 6,8 persen pada Oktober dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, harga rekreasi dan budaya naik 5,1 persen, makanan dan penginapan meningkat 3 persen, serta barang dan jasa rumah tangga naik 4 persen.

Kenaikan harga konsumen secara lebih luas masih relatif terbatas. Harga minuman beralkohol dan tembakau tidak berubah, sedangkan harga bahan pangan dan minuman nonalkohol hanya naik 0,5 persen.

(bbn)

No more pages