Logo Bloomberg Technoz

Defisit Dagang RI dengan China Makin Dalam, Untung dengan AS

Redaksi
02 November 2026 20:20

Neraca Dagang Mei 2026 Defisit US$1,6 M, Pertama Sejak 2020 (Bloomberg Technoz)
Neraca Dagang Mei 2026 Defisit US$1,6 M, Pertama Sejak 2020 (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia periode Januari-September 2026. Hasilnya, Indonesia mengalami defisit perdagangan terdalam dengan Tiongkok, yakni mencapai US$21,20 miliar. Angka defisitnya melonjak dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$14,27 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan, selain mengalami defisit dengan Tiongkok, Indonesia juga mengalami defisit dagang dengan Singapura US$7,03 miliar dan Austrasia US$5,78 miliar. Nilai defisit di kedua negara itu juga terus meningkat masing-masing dari US$3,51 miliar dan US$4,01 miliar.

"Neraca perdagangan kumulatif Januari-September 2026 tercatat surplus US$10,61 miliar. Angka itu merosot dibanding periode yang sama tahun lalu US$33,54 miliar," ujar Ateng, Senin (2/11/2026).


Berdasarkan data BPS, surplus kumulatif terutama ditopang surplus pada komoditas nonmigas US$34,21 miliar. Angka ini menyusut dibanding realisasi 2025 yang tercatat surplus US$47,4 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih defisit US$23,60 miliar, lebih dalam ketimbang defisit yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu, defisit US$13,86 miliar.

Di sisi lain, penyumbang surplus terbesar terhadap perdagangan Indonesia adalah Amerika Serikat, senilai US$14,26 miliar, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya US$13,35 miliar. Selain itu, Indonesia juga mengalami surplus perdagangan dengan India senilai US$10,59 miliar dari sebelumnya US$10,42 miliar. Di posisi ketiga, surplus dengan Filipina sebesar US$6,48 miliar, menyusut dari sebelumnya US$6,54 miliar.