Persepsi negatif yang meliputi pasar domestik, diperparah dengan prospek data ekonomi yang diperkirakan sedikit tertahan oleh laju inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23%. Walaupun inflasi masih berada di kisaran target BI dan secara bulanan sedikit melambat, tapi tekanan pangan dan energi belum sepenuhnya mereda.
Terlebih, dampak El Nino yang diperkirakan semakin intens dapat membuat inflasi tetap berada di kisaran 3%, setidaknya hingga semester I-2027. Selain itu, dampak inflasi dari tingginya harga energi global juga akan memengaruhi ketahanan fiskal dalam menyerap guncangan eksternal.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson memperkirakan inflasi akan meningkat melamapaui batas atas sasaran menjelang akhir tahun akibat tambahan biaya pangan yang dipicu gangguan cuaca akibat fenomena El Nino.
"Harga minyak yang masih tinggi akibat perang Iran juga akan terus merambat melalui rantai pasok global, sehingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa dalam komponen inflasi inti," sebut Henderson.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi RI diramal akan melambat pada kuartal III-2026, sebagaimana dihasilkan konsensus, sebesar 5,17%. Jika terwujud, angka ini lebih rendah dari pertumbuhan sebelumnya sebesar 5,29%.
"Indikator aktivitas ekonomi menunjukkan tekanan yang lebih besar dari sektor keuangan, yang kemungkinan melemahkan investasi modal," sebut Bloomberg Economics dalam catatannya.
Selain itu, pelemahan rupiah yang kian persisten ditambah proyeksi inflasi, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan BI Rate jadi 6%, yang berpotensi menahan akselerasi pertumbuhan ekonomi Tanah Air.
Di tengah sentimen dan ekspektasi itu, rupiah diperkiran berada di kisaran Rp18.150-Rp18.250/US$ pada pekan ini. Namun, jika pasar obligasi domestik mampu menggiring investor asing kembali masuk, rupiah diperkirakan stabil dan bergerak di rentang Rp18.100-18.200/US$.
(dsp)





























