Logo Bloomberg Technoz

Dia meyakini ketika harga produk nikel rendah, terdapat negara yang bakal menampung komoditas tersebut sebagai cadangan dan menjualnya kembali ketika harga naik.

“Kenapa terjadi harga yang menurun? Karena produksi kita jorjoran. Total kebutuhan kita hanya 3,5 juta [metrik ton] per tahun di dunia. Sekarang terjadi oversupply hampir 800.000 ton. Bagaimana mungkin bisa harganya bagus?" tuturnya.

Adapun, Kementerian ESDM menyatakan bakal mempertimbangkan kelebihan pasokan logam nikel dunia sekitar 750.000 mt Ni di LME dan SHFE dalam menetapkan kuota produksi bijih nikel untuk RKAB 2027.

Inventaris nikel di berbagai bursa logam utama dunia./dok. BMI

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno memberikan sinyal kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal lebih rendah dari kuota RKAB 2026 hasil revisi sebesar 290—300 juta mt.

Alasannya, pada akhir tahun ini sejumlah pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel bakal memangkas produksi, serta terdapat kelebihan pasokan logam nikel global.

Kendati begitu, dia belum dapat mengungkapkan besaran kuota produksi bijih nikel untuk RKAB 2027.

“Kemarin untuk nikel itu kan ada pembahasan yang terkait dengan stok yang ada di LME sama SHFE. Nah, itu kan over sekitar 750.000 ton. Nah, itu juga mesti kita exercise supaya nanti jangan sampai nanti produksi kita menambah lagi over-nya,” ujar Tri kepada awak media di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Kamis (29/10/2026).

Tri kembali menegaskan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal menekankan kestabilan dari pasar global dan kebutuhan bijih smelter domestik.

Dalam kesempatan itu, Tri mengungkapkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 hasil revisi mencapai 290—300 juta mt, naik dari kuota awal tahun sekitar 260–270 juta mt.

Tri juga memastikan seluruh RKAB hasil revisi telah diterbitkan. “Totalnya antara 290—300an [juta metrik ton] lah [kuota produksi nikel hasil revisi RKAB],” kata Tri.

Adapun, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) meramal produksi olahan nikel sepanjang tahun ini bakal turun sekitar 3,5%—4% menjadi 2,4–2,41 juta mt Ni, dari realisasi sepanjang 2025 sebesar 2,5 juta mt Ni.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyatakan penurunan produksi tersebut dipengaruhi menurunnya produksi NPI gegara penurunan utilitas dan pengalihan tanur untuk memproduksi nickel matte.

Kemudian, penutupan tanur pada semester II-2026 guna mengalihkan pasokan listrik untuk produksi aluminium.

Sementara itu, bagi smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL), kenaikan harga sulfur dan harga bijih limonit yang sempat terjadi menekan operasional pada tahun ini. Kondisi tersebut, kata Arif, diperparah dengan kurangnya pasokan air akibat fenomena El Niño.

“FINI mengestimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 3,5% hingga 4% jika dibandingkan dengan produksi 2025 sebesar 2,5 juta ton Ni,” kata Arif kepada Bloomberg Technoz, Rabu (14/10/2026).

Lebih lanjut, Arif mencatat realisasi produksi nikel olahan hingga Agustus 2026 mencapai 1,7 juta mt Ni dari smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan sekitar 270.000 mt Ni dari smelter HPAL.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta mt sampai 270 juta mt, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta mt.

Nikel dilego di harga US$15.271/mt di LME hari ini, turun 1,71% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages