Dalam laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026, UNVR mencatat keuntungan dari penjualan operasi yang dihentikan sebesar Rp1,08 triliun sebelum pajak. Setelah dikurangi pajak penghasilan terkait sebesar Rp214,05 miliar, keuntungan bersih dari transaksi tersebut mencapai Rp870,27 miliar.
Laporan keuangan tidak merinci besaran keuntungan yang berasal dari masing-masing transaksi penjualan bisnis es krim dan teh tersebut. Dengan demikian, nilai transaksi Rp7 triliun dan Rp1,5 triliun tidak dapat disamakan dengan keuntungan yang diakui dalam laporan laba rugi.
Di luar keuntungan penjualan bisnis, UNVR mencatat laba dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rp3,31 triliun, naik 10,6% yoy dibandingkan dengan Rp3 triliun pada Januari-September 2025. Dengan demikian, kenaikan laba total perseroan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan laba dari bisnis yang masih berjalan.
Dari sisi operasional, penjualan bersih UNVR dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp25,75 triliun, meningkat 7,2% yoy dibandingkan dengan Rp24,03 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, kenaikan penjualan tersebut belum diikuti pertumbuhan laba bruto. Laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp11,62 triliun, turun sekitar 1% yoy dari Rp11,74 triliun pada Januari-September 2025.
Penurunan laba bruto terjadi ketika harga pokok penjualan meningkat menjadi Rp14,13 triliun dari Rp12,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kenaikan penjualan belum mampu mendorong pertumbuhan laba bruto perseroan.
Di sisi lain, beban pemasaran dan penjualan turun menjadi Rp5,25 triliun dari Rp5,57 triliun. Adapun beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp2,44 triliun dari Rp2,17 triliun.
Dengan pergerakan tersebut, laba usaha UNVR tercatat sebesar Rp4,09 triliun, naik tipis sekitar 2,2% yoy dibandingkan dengan Rp4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun laba sebelum pajak penghasilan meningkat menjadi Rp4,16 triliun dari Rp3,91 triliun. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp851,41 miliar, laba dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp3,31 triliun.
Sementara itu, operasi yang dihentikan juga menyumbang laba periode berjalan sebesar Rp17,59 miliar. Setelah ditambah keuntungan penjualan bisnis sebesar Rp870,27 miliar setelah pajak, total laba dari operasi yang dihentikan mencapai Rp887,86 miliar.
(dhf)





























