Logo Bloomberg Technoz

PASOKAN ENERGI

Skema Impor Migas via Lemigas Dinilai Rawan Lambat Kerek Biaya

Azura Yumna Ramadani Purnama
28 October 2026 09:00

Kapal-kapal tanker minyak berlabuh di pelabuhan bagian dalam Escombreras, sebuah perluasan dari Pelabuhan Cartagena, Spanyol./Bloomberg
Kapal-kapal tanker minyak berlabuh di pelabuhan bagian dalam Escombreras, sebuah perluasan dari Pelabuhan Cartagena, Spanyol./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengingatkan adanya risiko tambahan biaya dan panjangnya rantai pasok usai terbitnya skema baru impor komoditas minyak dan gas (migas) melalui Lemigas, di mana PT Pertamina (Persero) hanya bertindak sebagai penyerap.

Fahmy menyatakan Lemigas merupakan badan layanan umum (BLU) yang sebelumnya tidak berpengalaman menangani impor migas, berbeda dengan perusahaan migas nasional seperti Pertamina.

Dia menyebut jalur impor juga dapat lebih panjang, sebab Lemigas perlu melakukan perjanjian dan pembelian dari badan usaha (BU) atau pemerintah suatu negara, kemudian Lemigas perlu mengangkutnya ke Tanah Air, hingga akhirnya baru dijual ke Pertamina untuk diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).


Adapun, skema impor baru tersebut diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 107/2026, yang mempertegas bahwa impor migas dapat dilakukan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G) maupun pemerintah dengan BU dengan dilaksanakan oleh Lemigas.

Stockpiles of coal at a sorting and storage facility./Bloomberg

“Lemigas tadi itu kan selama ini enggak punya pengalaman melakukan impor minyak dan BBM. Justru ini akan menghambat. Prosesnya bisa lama dibandingkan dengan kalau itu dilakukan oleh Pertamina yang memang sudah sehari-hari melakukan impor,” kata Fahmy kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).