Logo Bloomberg Technoz

Saham yang Beri Yield Dividen Tinggi Saat IHSG Jatuh Imbas MSCI

Sabrina Mulia Rhamadanty
16 October 2026 10:36

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar saham Indonesia kembali diguncang aksi jual masif hingga memicu trading halt selama 30 menit setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8,01% ke level 5.393,92 pada pembukaan perdagangan, Jumat (16/10/2026). Tekanan berlanjut hingga koreksi meluas ke kisaran 11%, tertekan oleh kombinasi sentimen global dan domestik.

Di tengah kejatuhan harga secara drastis tersebut, tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) sejumlah saham blue chip justru melonjak ke level yang menarik perhatian pelaku pasar.

Gelombang tekanan jual ini utamanya dipicu wacana MSCI yang mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market, berdampak langsung pada potensi outflow dana asing secara signifikan.

IHSG Terendah dalam 6 Tahun Lebih Sejak 2020 (Bloomberg)

Kondisi tersebut diperparah oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat bulan September yang melonjak 1,3% secara bulanan—jauh melampaui konsensus pasar sebesar 0,5%—sehingga memicu aksi risk-off global.

Namun, penurunan harga saham yang tajam secara otomatis mendongkrak hitungan trailing twelve months (TTM) dividend yield pada deretan emiten kapitalisasi besar.