Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tertekan, Premi Risiko Dinilai Lebihi Tekanan Fundamental

Redaksi
27 October 2026 09:10

Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Senin (26/10/2026) dengan posisi yang mencatatkan pelemahan sekitar 0,37% ke posisi Rp18.124/US$. Volatilitas yang menyebabkan dolar memasuki level psikologis RP18.000 per US$ inipun sudah terjadi sejak pertengahan tahun kemarin.

Meski begitu,  Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa belum tepat  jika level di atas Rp18.000 dianggap sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia walaupun pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal.

“Sebagian pelemahan memang muncul akibat perubahan kondisi ekonomi, tetapi sebagian lainnya berasal dari premi risiko yang sudah melampaui tekanan fundamentalnya,” kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Senin (26/10/2026).


Menurut Yusuf, peran faktor domestik terlihat cukup jelas dengan indeks dolar AS justru turun 0,19% seiring melemahnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga minyak. Namun, rupiah tetap menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di Asia.

Sepanjang 2026, rupiah sudah melemah 7,52%, sedangkan won Korea Selatan menguat 8,78% dan yuan 4,68%.