Indian Oil Corp, Hindustan Petroleum Corp, dan Bharat Petroleum Corp kini membutuhkan puluhan ribu ton minyak goreng bekas. Untuk memperolehnya, mereka harus mengumpulkan limbah tersebut dalam skala industri dari ribuan rumah makan yang tersebar, dengan mengambilnya satu per satu wadah.
"Pasar ini jauh, jauh lebih besar daripada yang bisa kami penuhi," kata Mannan Khan, CEO M11 Energy Transition Pvt, salah satu dari sekitar belasan perusahaan pengumpul limbah minyak yang memiliki izin resmi di India.
Pada 2022, perusahaannya hanya memiliki satu orang yang bertugas mengumpulkan minyak goreng bekas dalam jeriken. Tahun ini, ia mempekerjakan 300 pengumpul di 24 kota, dengan total perolehan sekitar 1.000 ton per bulan.
Di balik pembelian tersebut terdapat kerentanan yang makin sulit diabaikan oleh India. Negara ini mengimpor sekitar 90% minyak mentahnya dan telah menghabiskan rekor dana US$125 miliar untuk impor tersebut sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran mengenai cadangan devisa negara.
Kemudian terjadi perang antara AS dan Iran, yang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz dan memicu lonjakan harga minyak, sehingga memperkuat alasan untuk mencari lebih banyak bahan bakar di dalam negeri.
"Hormuz memicu alarm peringatan," kata Sanjay Sah, pimpinan bidang energi dan sumber daya Deloitte Asia Selatan, seraya menambahkan bahwa pemerintah harus bertindak cepat untuk mengurangi impor.
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi sedang mempromosikan energi yang dihasilkan dari limbah perkotaan, industri, dan pertanian guna membantu memenuhi permintaan yang terus meningkat serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Mulai Januari, penerbangan internasional yang bertolak dari India wajib menggunakan bahan bakar yang mengandung 1% bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF). Persentase ini akan meningkat menjadi 5% pada tahun 2030, sejalan dengan target 5% biodiesel untuk sektor transportasi darat.
India turut serta dalam upaya Asia untuk mengembangkan bahan bakar hayati (biofuel), termasuk SAF. Singapura dan Korea Selatan juga berencana menerapkan ketentuan serupa mulai 2027.
Tren pengumpulan jelantah ini juga meluas di Malaysia, Vietnam, dan Indonesia, sementara China telah menjadi pemasok utama minyak jelantah ke Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Singapura.
Menurut Argus Biofuels Analytics, permintaan global terhadap SAF diperkirakan akan melonjak 600% dalam satu dekade, mencapai 14 juta ton pada 2035.
Jonty Richardson, konsultan utama biofuel di lembaga tersebut, menyatakan Asia akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ini. S&P Global memproyeksikan permintaan dari India saja akan mencapai 250.000 ton pada akhir dekade ini.
Di sisi lain, pasokan yang terbatas menjadi kendala yang turut menghambat pertumbuhan permintaan. Menurut International Air Transport Association (IATA), SAF hanya mencakup 0,6% dari total bahan bakar jet yang digunakan tahun lalu, dengan perkiraan pertumbuhan hanya akan terjadi secara bertahap.
Kondisi ini membuat upaya untuk memproduksi bahan bakar dari limbah dapur makin mendesak.
Minyak jelantah menawarkan cara paling ekonomis untuk menghasilkan bahan bakar yang memenuhi standar emisi global, tetapi memastikan minyak tersebut benar-benar berasal dari limbah bisa menjadi tantangan tersendiri.
Terkadang, nilai ekonomi minyak limbah bisa lebih tinggi daripada minyak segar, sehingga membuka celah terjadinya penipuan. Kesulitan lainnya terletak pada proses pengumpulan limbah tersebut.
India merupakan konsumen minyak goreng terbesar di dunia dan menghasilkan sekitar 3 juta ton minyak jelantah setiap tahun. Namun, tanpa sistem pengumpulan terpusat, minyak tersebut hanya menumpuk di ruang bawah tanah restoran, dapur hotel, dan pabrik makanan, menunggu untuk diangkut.
Menurut SAF Association di India, hanya sekitar 5% dari used cooking oil (UCO)—istilah industri untuk minyak goreng bekas—yang berhasil dikumpulkan. Diperkirakan 60% sisanya justru kembali masuk ke rantai pasok pangan untuk digunakan ulang; praktik yang tidak hanya ilegal, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan orang yang mengonsumsinya.
Khan dari M11, yang menjual biodiesel terutama ke pelanggan di Eropa dan AS, memperkirakan India akan menjadi pembeli yang makin penting. Ia berencana menggandakan jumlah depo miliknya menjadi 50 unit pada akhir tahun ini, serta memperluas rute pengumpulan hingga mencakup rumah tangga, produsen makanan, dan dapur industri.
Ia bukan satu-satunya pihak yang bersiap menghadapi lonjakan permintaan. Münzer Bioindustrie GmbH, produsen biodiesel asal Austria, mulai mengekspor minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) dari India satu dekade lalu dan mendapati pasar yang tidak teratur serta penuh tantangan.
Kini, perusahaan melihat pasar tersebut makin matang dan telah menerima proposal dari perusahaan kilang untuk memproduksi biofuel secara bersama-sama.
"Tidak mudah menjadi pelaku bisnis yang terorganisasi di pasar yang sangat tidak teratur," kata Jatin Udwadia, kepala divisi perdagangan di Münzer Bharat, yang mengumpulkan sekitar 900 ton UCO setiap bulan di lebih dari 20 kota di India.
"Mandat SAF India merupakan langkah ambisius, yang justru menjadi alasan kuat bagi pelaku bisnis terorganisasi untuk turun tangan dan membantu India memenuhi mandat tersebut."
Kembali ke ruang bawah tanah di Bengaluru, salah satu pria menuangkan seember minyak goreng berwarna cokelat keemasan melalui saringan logam yang dipegang oleh rekannya. Mereka mengulangi proses ini hingga tiga atau empat wadah berkapasitas 20 liter terisi penuh, lalu menimbang minyak tersebut, memotretnya, dan mencatat hasil pengumpulan dalam sebuah aplikasi sebelum memuat wadah-wadah itu ke becak motor mereka.
Minyak tersebut kemudian masuk ke dalam rangkaian dokumentasi untuk memastikan sesuatu yang tampak jelas di ruang bawah tanah restoran, tetapi bisa menjadi tidak pasti saat tiba di kilang: bahwa minyak tersebut benar-benar bekas pakai (minyak jelantah).
Kepastian mengenai status minyak ini bisa bernilai ekonomis. Menjelang penerapan mandat SAF oleh Uni Eropa tahun lalu, harga minyak jelantah terkadang justru lebih tinggi daripada minyak goreng baru—anomali yang aneh.
Kelompok industri biodiesel Eropa sempat mempertanyakan apakah beberapa pengiriman dari produsen Asia mengandung minyak nabati segar yang diklaim sebagai limbah dapur. Produsen Asia membantah tuduhan tersebut, sembari menyerukan standar penelusuran yang lebih ketat.
Di pasar India yang terfragmentasi, melacak keberadaan minyak tersebut merupakan hal yang sulit tanpa adanya tindakan terkoordinasi antara pemerintah dan industri, kata Sah dari Deloitte.
Untuk saat ini, para pengumpul mendata apa pun yang bisa mereka kumpulkan, sementara jumlah pembeli yang memperebutkan hasil pengumpulan mereka terus bertambah.
Perusahaan minyak negara, Hindustan Petroleum dan Bharat Petroleum, membuka tender untuk total 83.000 ton minyak goreng bekas yang akan ditutup bulan ini. Tender ini menyusul tender serupa dengan volume lebih kecil dari Indian Oil awal tahun ini, sebagaimana tercantum dalam dokumen yang dipublikasikan pemerintah.
Menurut data dari Argus Media, harga acuan minyak goreng bekas yang diangkut melalui laut dari dari Asia telah naik sekitar 10% tahun ini, setelah sempat mencapai rekor tertinggi pada Mei; Argus Media memprediksi tren kenaikan ini akan terus berlanjut selama satu dekade ke depan.
Menjelang malam di Bengaluru, becak motor yang dikendarai kedua pria itu sudah penuh sesak dengan sekitar 20 wadah minyak. Mereka menuju depot M11, yang menerima sekitar empat ton per hari.
Nantinya, minyak tersebut akan diolah dan dimurnikan. Sebagian akan dikirim ke Jerman melalui Rotterdam; sebagian lagi ke pelabuhan-pelabuhan di Texas dan California. makin banyak bahan baku yang dikirim ke Padubidri di pantai barat India dan Paradip di pantai timur, sebelum akhirnya digunakan sebagai bahan bakar pesawat yang lepas landas dari Delhi, Mumbai, dan pusat-pusat penerbangan utama lainnya.
Kembali ke depot, para "pemburu minyak bekas" tersebut membandingkan jumlah yang terkumpul dengan target bulanan yang tertera di papan tulis. Esok hari, akan ada lebih banyak galon yang harus dikumpulkan, dan lebih banyak pembeli yang harus dipenuhi kebutuhannya.
(bbn)































