Selain itu, dalam bahan paparan Aviliani dituliskan juga bahwa kelas menengah di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 46,7 juta orang atau sekitar 16,6% dari total populasi masyarakat RI.
Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah perlu memperhatikan kelas menengah-bawah, sebab menjadi kelompok yang dinilai terhimpit, di mana pendapatannya menurun, namun tidak mendapatkan bantuan apapun.
Di sisi lain, ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Indosenia yang menurutnya tertahan di kisaran 5% selama ini belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan manfaat pertumbuhan.
Dia menyebut kelompok masyarakat yang ditandai dengan warna biru atau desil 8-10 dalam paparannya menyumbang sekitar 53% dari total belanja masyarakat.
Kondisi ini lah yang membuat pertumbuhan ekonomi tetap terlihat terjaga meskipun kelompok kelas menengah menghadapi tekanan pendapatan.
"Makanya kita enggak terasa tumbuh 5% oke-oke aja kok, tapi jangan lupa yang menikmati adalah yang biru [masyarakat kelas atas]," pungkasnya.
(prc/ell)
































