Logo Bloomberg Technoz

“Hauling di Tanjung Enim, mungkin bulan depan sudah ada keputusan,” tuturnya.

Sebelumnya, VKTR merancang rights issue dengan bidikan dana maksimal Rp3 triliun untuk menopang ekspansi bisnis pengadaan armada listrik saat ini.

Lewat hajatan ini, VKTR akan menerbitkan 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Porsi saham baru itu setara 25,53% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan usai rights issue.

Adapun, pengendali perseroan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tidak akan mengesekusi haknya. BNBR mengalihkan hak untuk menebus rights issue itu kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).

Kendaraan investasi keluarga Bakrie itu akan menyerap rights issue yang dialihkan BNBR sebanyak 3,66 miliar saham dengan nilai sekitar Rp 732,12 miliar.

BCI dan PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) akan bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap sisa saham baru yang tidak diambil pemegang saham lainnya.

Dengan demikian, BCI akan menyerap sisa saham sebanyak-banyaknya 3,08 miliar saham senilai maksimal Rp617,87 miliar. Sementara itu, BIS akan menyerap hingga 8,25 miliar saham senilai Rp1,65 triliun.

Direktur Utama VKTR Ardiansyah Bakrie mengatakan rights issue itu akan menopang kebutuhan modal kerja perseroan untuk menangkap peluang permintaan elektrifikasi di berbagai sektor industri saat ini.

“Kami melihat peluang yang semakin besar seiring dengan meningkatnya permintaan elektrifikasi di berbagai sektor,” kata Ardi dikutip dari keterangan resmi.

Pabrik Mobil Listrik VKTR yang diresmikan Presiden Prabowo, Kamis (9/4/2026) (Sumber: https://vktr.id/)

Seiring dengan hajatan rights issue jumbo itu, VKTR telah mengikat komitmen awal dengan berbagai perusahaan untuk pengadaan armada listrik pertengahan tahun ini. Sejumlah komitmen awal itu diikat ke dalam bentuk nota kesepahaman sampai Desember 2027.

VKTR mengikat komitmen awal dengan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) untuk penyewaan 200 unit heavy duty truck listrik. Selain itu, VKTR turut memegang komitmen penyediaan 200 unit light duty truck listrik dengan PT Gaea Solusi Mobility dan 300 light duty truck listrik dengan PT Green Volt Energy.

Komitmen lain berasal dari PT Gapura Intan Mandiri untuk penyediaan sekitar 300 unit bus listrik ukuran 8 meter dan sekitar 300 unit bus listrik ukuran 12 meter lewat skema penyewaan.

Sementara itu, calon pelanggan lain berasal dari PT Laksana Bus Manufaktur dan PT day Mitra Multipratama yang berkomitmen memesan masing-masing 100 unit bus listrik ukuran 12 meter dan 8 meter.

Komitmen terakhir datang dari PT Mayasari Bakti dengan rencana penyewaan 100 unit bus listrik berukuran 12 meterr.

Minat Danantara

Di sisi lain, PT Danantara Investment Management (Persero) tengah menjajaki peluang untuk menempatkan dana segar ke PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).

Penjajakan itu tercermin dari penandatanganan dokumen indicative non-binding term sheet antara kedua perusahaan pada 28 Agustus 2026.

Pembahasan opsi pinjaman lengan investasi Danantara itu juga ikut melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), holding bisnis keluarga Bakrie sekaligus pengendali VKTR.

“Investasi pada elektrifikasi mobilitas komersial merupakan investasi pada transisi energi jangka panjang yang dapat membawa dampak positif pada percepatan adopsi kendaraan listrik nasional,” kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir lewat siaran pers, Rabu (2/9/2026).

Pandu Patria Sjahrir Chief Investment Officer Danantara. Fotografer: Andrean Kristianto/Bloomberg Businessweek Indonesia

Pandu menerangkan non-binding term sheet yang sudah ditandatangani itu merupakan kerangka awal. Keputusan Investasi Danantara bakal tetap melewati proses uji tuntas yang komprehensif.

Berdasarkan indikasi awal yang tercantum dalam term sheet, potensi penyediaan pendanaan dilakukan dalam jumlah pokok indikatif sebanyak-banyaknya Rp2 triliun.

Rencanannya, VKTR akan menggunakan utang itu untuk pembiayaan pengadaan bus listrik dan tujuan lainnya yang akan disepakati dengan Danantara dalam dokumen definitif.

Seiring dengan penjajakan opsi utang itu, Bakrie Metal Industries memborong 3 miliar saham VKTR pada 28 Agustus 2026 lalu. Saat itu, salah satu lengan investasi grup Bakrie tersebut memborong saham VKTR di harga Rp100 per saham.

Bakrie Metal Industries mengeluarkan dana Rp300 miliar untuk mempertebal kepemilikan saham di VKTR. Selepas aksi borong itu, Bakrie Metal Industries kini menguasai 9,21 miliar saham VKTR atau setara dengan 21,06% dari saham beredar. Sementara itu, BNBR menguasai 10,68 miliar saham VKTR atau setara 24,41%.

Berdasarkan data KSEI, Glencore International Investments dan Envision Green Energy Indonesia turut menghimpit saham VKTR. Glencore menguasai 1,44 miliar saham (3,29%) dan Envision sekitar 678,87 juta saham (1,55%).

(naw)

No more pages