Menurut dia, ketegangan geopolitik yang mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya pengangkutan dan asuransi serta memperpanjang waktu pengiriman, sehingga membebani kinerja ekspor.
“Ketidakpastian tersebut dapat semakin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia. Kenaikan harga energi global dapat memberikan sedikit dukungan melalui harga ekspor,” katanya
Selain itu, meskipun perdagangan global semikonduktor dan cip terkait AI terus berkembang, keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut membuat manfaat langsung terhadap ekspor diperkirakan tetap terbatas.
Impor Diproyeksi Naik
Sementara itu, pertumbuhan impor diproyeksikan terus meningkat menjadi 31,14% yoy pada Agustus 2026 dari 27,02% yoy pada Juli 2026, didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat akibat agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan.
Kenaikan harga minyak global juga diperkirakan semakin meningkatkan nilai impor.
Secara keseluruhan, Faisal memperkirakan Current Account Defisit (CAD) melebar menjadi 2,49% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dari 0,09% dari PDB pada 2025.
Sejalan dengan itu, Faisal memperkirakan cadangan devisa turun menjadi US$143-147 miliar pada akhir 2026, dari US$156,47 miliar pada akhir 2025.
“Dengan kondisi tersebut, kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas,” kata Faisal.
Pada 2027, Ia memperkirakan CAD tetap berada di sekitar 2,49% dari PDB, karena ketidakpastian global kemungkinan masih berlanjut, setidaknya hingga semester I-2027. Dengan demikian, cadangan devisa diproyeksikan relatif stabil dan mencapai sekitar US$141-145 miliar pada akhir 2027.
(ell)





























