Secara teknis, Sudirman menegaskan proses pengubahan batu bara menjadi bensin sangat memungkinkan untuk diterapkan karena teknologinya sudah tersedia.
Dia mencontohkan Afrika Selatan sebagai salah satu negara yang telah berhasil menerapkan teknologi tersebut melalui perusahaan energi dan kimia terpadu, Sasol, yang memiliki fasilitas pabrik pencairan atau likuifaksi batu bara.
“Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang telah memiliki teknologi. Contohnya perusahaan mereka, Sasol yang sudah memiliki fasilitas pabrik untuk proses coal to liquid,” jelasnya.
Sudirman juga menjelaskan tahapan awal pengolahan batu bara menjadi bensin memiliki kemiripan dengan proses pembuatan dimethyl ether (DME).
Proses tersebut diawali dengan mereaksikan batu bara bersama oksigen dan uap air pada suhu serta tekanan tinggi untuk menghasilkan gas sintetis berupa campuran karbon monoksida dan hidrogen.
Gas sintetis tersebut kemudian diolah lebih lanjut menjadi metanol sebelum akhirnya diproses menjadi DME atau bensin.
Sudirman menilai kendala utama dalam merealisasikan proyek ini berada pada aspek keekonomian, bukan pada kesiapan teknologi.
Kebutuhan biaya modal dan biaya operasional yang sangat tinggi membuat pelaku usaha swasta enggan berinvestasi pada proyek pembuatan bensin dari batu bara untuk saat ini.
“Aspek keekonomian yang belum memadai tersebut dibuktikan dengan mundurnya perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products, dari rencana proyek pembuatan DME berbasis batu bara di Indonesia beberapa waktu lalu,” kata dia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan sedang menyiapkan strategi untuk mengolah batu bara menjadi gas dan minyak bumi, bahkan BBM berupa bensin.
Langkah ini diambil guna menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengoptimalkan seluruh potensi energi nasional di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu.
“Jadi begini, apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo terkait dengan membuat gas ataupun minyak lewat batu bara, itu berangkat dari pemikiran bahwa dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu,” ungkap Bahlil dalam agenda Hari Ulang Tahun Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara ESDM, Senin (21/9/2026).
Bahlil menjelaskan pemanfaatan batu bara berkalori rendah sebagai bahan baku energi alternatif kini makin memungkinkan berkat perkembangan teknologi. Menurutnya, skema ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti China.
Pemerintah Indonesia juga telah menerima sejumlah penawaran kerja sama dari perusahaan luar negeri untuk mengembangkan teknologi tersebut, mengingat cadangan batu bara berkalori rendah di Indonesia sangat melimpah.
“Sekarang teknologinya itu sudah canggih di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak. Nah, tetapi ini kan kita akan menindaklanjuti terus apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden,” tambahnya.
Menurut Bahlil, dengan memproduksi bahan bakar sendiri di dalam negeri, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta menekan keluarnya devisa negara.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan teknologi konversi batu bara menjadi bahan bakar cair (coal to liquid) alias likuifaksi batu bara (coal liquefaction) sebenarnya bukan hal baru di dunia.
Dia mencontohkan penggunaan teknologi tersebut oleh Jerman Timur pada masa peperangan dahulu untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan tempur karena keterbatasan sumber daya minyak bumi.
“Kalau di dunia ini, dimulai coal to liquid itu sudah lama. Bahkan di Jerman itu pada saat Jerman Timur, mereka kan enggak ada sumber minyak, mereka mengubah yang batu bara menjadi minyak untuk tank,” jelas Tri.
Selain itu, Tri menyebutkan keberhasilan perusahaan Sasol di Afrika Selatan yang mampu memproduksi sekitar 300.000 barel minyak per hari dari batu bara sejak masa sanksi politik apartheid.
“Afrika Selatan, dahulu dia kena politik apartheid, terus di-ban oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batu bara Sasol itu sampai sekarang kira-kira 300.000 barel per hari,” katanya.
Meski begitu, mengenai rencana eksekusi di Indonesia, dia menyatakan bahwa pihak kementeriannya masih mengevaluasi sejumlah penyedia teknologi dari berbagai negara dan belum merinci total potensi volume hasil konversi tersebut dalam hitungan barel.
“Nanti beberapa sedang dievaluasi lah,” katanya.
(smr/wdh)



























