Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin berpendapat, dinamika ekonomi dunia mendorong fenomena fly to quality atau pelarian modal ke aset berkualitas. Hal itu pada akhirnya akan membuat potensi kenaikan suku bunga menjadi semakin dibutuhkan untuk menghindari rupiah tertekan terlalu dalam.

"Langkah BI yang selama ini dijalankan berupa operasi pasar yang masif, menaikkan suku bunga SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan memfasilitasi transakai swap rupiah terhadap dolar AS tidak akan memadai," ujar Wijayanto.

Saat ini, BI Rate berada di level 5,75%, telah meningkat 100 basispoin (bps) sepanjang tahun ini.

Pada dasarnya, menurut dia, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve dan bank sentral Jepang Bank of Japan yang menaikkan suku bunga acuan berdampak sangat signifikan terhadap situasi ekonomi dunia. Seluruh bank sentral negara-negara di dunia akan merespons dengan kebijakan yang sama, yakni mengantisipasi pembalikan arus modal keluar.

"Situasi ini juga menunjukkan dinamika moneter dunia yang sedang meningkat. Ini menjadi awal higher for longer," tutur Wijayanto.

(red)

No more pages