Impor dari Rusia telah berkurang dan diperkirakan rata-rata mencapai sekitar 1,9 juta barel per hari pada September—lebih dari 35% dari total impor dan merupakan angka terendah sejak April, menurut data Kpler.
Namun, mengganti pasokan minyak Rusia tidaklah mudah, mengingat volumenya jauh lebih besar daripada negara seperti Venezuela atau Iran, dan harganya tinggi.
Minyak Urals Rusia yang dikirim ke India berharga sekitar US$133 per barel pada akhir pekan lalu, menurut Argus Media, sementara jenis minyak dari Timur Tengah seperti Oman dan Murban harganya beberapa dolar lebih mahal.
Di tengah kesulitan eksportir Teluk Persia memulihkan aliran minyak melalui Selat Hormuz, pasar minyak mentah global mengalami tekanan pasokan.
Sementara itu, India membutuhkan lebih banyak minyak karena kilang baru di Rajasthan dan perluasan fasilitas yang sudah ada mendorong volume pembelian mendekati rekor 5,4 juta barel per hari.
Pembicaraan mengenai pasokan minyak mentah Rusia untuk pengiriman November biasanya dimulai pada pekan terakhir bulan ini, sehingga siklus pembelian berikutnya akan terjadi tepat di tengah periode ketidakpastian tersebut.
India akan memantau apakah Washington menerapkan sanksi tersebut kepada semua pembeli energi utama Rusia, termasuk China, kata para sumber tersebut.
UU tersebut memungkinkan pemerintahan Trump mengenakan tarif dalam waktu 30 hari terhadap barang-barang dari negara-negara pembeli utama energi Rusia, dengan besaran tarif yang berpotensi mencapai 100%—sehingga keputusan untuk mengambil risiko tersebut sepenuhnya di tangan pemerintah.
India telah berulang kali menyesuaikan pembelian minyak Rusia selama lebih dari setahun, seiring dengan langkah Washington yang memperketat atau melonggarkan tekanan terhadap perdagangan tersebut.
Meski demikian, New Delhi menyatakan keputusan pembeliannya terutama didorong oleh kebutuhan untuk menjamin pasokan energi yang terjangkau bagi 1,4 miliar penduduknya.
"India sebaiknya terus membeli minyak mentah dari Rusia selama harganya masih kompetitif," ujar Ajay Srivastava, pendiri Global Trade Research Initiative yang berbasis di New Delhi.
"India sebaiknya mengabaikan ancaman tarif AS karena hal itu tidak akan ada habisnya. AS mungkin akan segera mencari cara lain untuk menerapkan tarif tambahan."
(bbn)






























