Tren Suku Bunga Acuan Global
Koreksi IHSG sepertinya merupakan imbas dari pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara. Dengan tidak adanya tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah yang sudah mendekati bulan ketujuh, harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel. Ini memicu kekhawatiran inflasi yang kemudian membuat bank sentral tidak banyak punya pilihan kecuali menaikkan suku bunga acuan.
Bank sentral Uni Eropa (ECB), Amerika Serikat (Federal Reserve), dan terakhir Jepang (BoJ) adalah sebagian yang sudah mengerek suku bunga acuan.
“Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati terhadap dampak konflik di Timur Tengah,” mengutip paparan Phillip Sekuritas Indonesia.
Sementara Bank Indonesia (BI) akan mengumukan suku bunga acuan pekan ini. Pasar memperkirakan BI Rate masih ditahan di 5,75% lantaran rupiah yang relatif stabil.
Sentimen kehati-hatian pasar turut membesar yang tercermin dari nilai tukar rupiah yang kembali terdepresiasi terhadap USD hingga berada di level Rp17.828/US$.
Namun, BI tentu juga akan mencermati dinamika lain terutama perkembangan di Timur Tengah. Pasar akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran di sela agenda Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan ini.
Per siang hari ini, harga minyak Brent masih nyaman di atas US$100 per barel, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Juli yang lalu. Harga minyak yang sudah meningkat signifikan pasca konflik Timur Tengah bisa menjadi katalis negatif bagi negara net importir minyak seperti Indonesia.
(fad/aji)






























