Logo Bloomberg Technoz

Beras fortifikasi merupakan produk yang dibuat dengan mencampurkan beras sosoh dengan kernel beras fortifikan. Kernel tersebut dibuat menyerupai butiran beras sehingga dapat bercampur dengan beras biasa dan tetap terlihat seperti bagian dari produk yang dikonsumsi sehari-hari.

Kernel beras fortifikan memiliki kandungan zat gizi mikro tertentu. Ketika dicampurkan dengan beras sosoh dalam komposisi yang sesuai, produk akhirnya diharapkan memiliki kandungan vitamin dan mineral sesuai standar yang ditetapkan.

Berdasarkan SNI 9372:2025, kandungan zat gizi yang dipersyaratkan dalam setiap 100 gram beras fortifikasi meliputi beberapa vitamin dan mineral berikut:

  • Vitamin B1 minimal 0,25 miligram.

  • Asam folat antara 0,25 hingga 0,38 miligram.

  • Vitamin B12 antara 1,0 hingga 1,5 mikrogram.

  • Zat besi antara 3,50 hingga 5,25 miligram.

  • Seng antara 3,0 hingga 4,5 miligram.

Fortifikasi pangan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro masyarakat. Karena itu, kesesuaian kandungan dengan informasi pada label menjadi bagian penting dalam memastikan produk menjalankan fungsi fortifikasinya.

Cara Mengenali Beras Fortifikasi Saat Membeli

Calon pembeli memilih beras di salah satu toko di Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Masyarakat tetap dapat melakukan sejumlah pemeriksaan awal ketika membeli beras fortifikasi. Namun, pemeriksaan tersebut lebih ditujukan untuk melihat informasi produk dan legalitasnya, bukan memastikan kandungan zat gizi hanya berdasarkan tampilan fisik.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan konsumen antara lain:

  1. Cek informasi pada kemasan

Konsumen sebaiknya tidak hanya memperhatikan tulisan "beras fortifikasi" atau klaim "diperkaya vitamin" pada bagian depan kemasan.

Periksa pula nama produk, identitas produsen, informasi nilai gizi, klaim kandungan vitamin dan mineral, serta informasi izin edar yang tercantum pada kemasan.

Produk beras fortifikasi juga perlu memenuhi ketentuan keamanan dan mutu yang berlaku. Pengujian kandungan dilakukan melalui pemeriksaan yang dapat memberikan hasil secara terukur.

  1. Perhatikan keberadaan kernel

Beras fortifikasi mengandung kernel beras fortifikan yang dicampurkan dengan beras sosoh. Dalam kondisi tertentu, beberapa butir kernel dapat terlihat sedikit berbeda dari butiran beras lainnya.

Perbedaan tersebut dapat berupa bentuk atau tampilan tertentu. Namun, keberadaan butiran yang berbeda tidak otomatis menunjukkan bahwa produk tersebut memenuhi atau tidak memenuhi standar.

Dengan demikian, konsumen tidak perlu langsung menganggap beras bermasalah hanya karena menemukan beberapa butir yang terlihat berbeda. Butiran tersebut dapat saja merupakan kernel yang membawa vitamin dan mineral tambahan.

  1. Jangan menjadikan warna sebagai patokan

Warna, bentuk, aroma, dan tekstur beras tidak dapat digunakan untuk memastikan kadar vitamin maupun mineral di dalam produk.

Beras fortifikasi memang dirancang agar tetap menyerupai beras yang biasa dikonsumsi. Karena itu, kandungan zat gizi di dalamnya tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan menggunakan mata.

Anggapan bahwa beras yang terlalu putih, terlalu mengilap, atau memiliki bentuk tertentu pasti bermasalah juga tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan kandungan fortifikasi.

Apakah Beras Fortifikasi Bisa Dites dengan Air?

Di media sosial, masyarakat dapat menemukan berbagai metode sederhana yang diklaim mampu membedakan beras berkualitas atau tidak. Salah satunya adalah merendam beras ke dalam air untuk melihat apakah butiran tersebut mengapung atau tenggelam.

Metode tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan kandungan vitamin dan mineral dalam beras fortifikasi. Perilaku butiran ketika berada di dalam air tidak menunjukkan apakah produk mengandung vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng sesuai standar.

Hal yang sama berlaku untuk metode membakar atau menyangrai beras. Perubahan warna, aroma, maupun tekstur setelah beras dipanaskan tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar zat gizi mikro.

Dengan kata lain, eksperimen sederhana yang dilakukan di rumah tidak dapat menggantikan pengujian laboratorium. Konsumen sebaiknya tidak menggunakan hasil dari metode tersebut sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu produk memenuhi atau melanggar standar.

Pengujian Laboratorium Menjadi Acuan

Untuk mengetahui kandungan beras fortifikasi secara akurat, diperlukan pengujian menggunakan metode laboratorium. Pemeriksaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui apakah kandungan vitamin dan mineral dalam produk telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Pengujian juga penting untuk memastikan kesesuaian antara kandungan sebenarnya dengan informasi yang dicantumkan produsen pada label. Dengan metode tersebut, kadar zat gizi dapat diukur secara kuantitatif dan dibandingkan dengan persyaratan yang berlaku.

SNI 9372:2025 turut mengatur kesesuaian kandungan zat gizi dengan informasi pada kemasan. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan dalam bahan informasi tersebut, kandungan vitamin dan mineral setidaknya harus mencapai 80 persen dari nilai yang dicantumkan pada label.

Sementara itu, untuk mineral seperti zat besi dan seng, kandungannya tidak boleh melebihi 120 persen dari nilai yang tertera pada label.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa klaim pada kemasan tidak cukup hanya didasarkan pada keberadaan kernel atau tampilan fisik beras. Kandungan zat gizi harus memenuhi persyaratan yang dapat dibuktikan melalui pengujian.

Karena itu, masyarakat yang membeli beras fortifikasi sebaiknya lebih memperhatikan informasi pada kemasan dan legalitas produk. Konsumen juga perlu berhati-hati terhadap berbagai klaim atau metode pengujian sederhana yang beredar di media sosial.

Temuan terhadap sejumlah produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan juga menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap produk pangan yang beredar. Pemeriksaan diperlukan agar klaim fortifikasi pada produk dapat sesuai dengan kandungan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, beras fortifikasi memang dapat memiliki beberapa butir yang tampak berbeda karena adanya kernel beras fortifikan. Namun, kondisi tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya cara untuk menentukan kualitas maupun kesesuaian kandungan produk.

Masyarakat juga tidak perlu melakukan eksperimen menggunakan air, membakar, atau menyangrai beras untuk mengetahui kandungan gizinya. Cara tersebut tidak dapat memberikan hasil yang dapat dibandingkan dengan standar kandungan vitamin dan mineral.

Jika ingin memastikan kandungan beras fortifikasi secara akurat, pengujian laboratorium tetap menjadi metode yang diperlukan. Sementara bagi konsumen, langkah yang paling praktis adalah memeriksa informasi produk, identitas produsen, izin edar, informasi nilai gizi, serta klaim kandungan yang tercantum pada kemasan.

(seo)

No more pages