Logo Bloomberg Technoz

Pada 2024, tiga eksportir LNG terbesar di dunia menyumbang sekitar 64% dari pasokan global, naik dari sekitar 60% pada 2000—meski jumlah negara pengekspor LNG telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Qatar dan Australia diperkirakan akan di belakang AS dalam hal total volume ekspor hingga 2031, tetapi tetap menjadi salah satu pemasok terbesar di dunia, diikuti oleh Rusia dan Malaysia.

"Tingginya tingkat konsentrasi ini menggarisbawahi ketergantungan struktural ketahanan pasar LNG global terhadap sejumlah negara terbatas, yang keputusan produksinya, kendala infrastrukturnya, serta posisi geopolitiknya memiliki dampak signifikan bagi pasar gas global," bunyi laporan tersebut.

Selat Hormuz

Menurut IEF, sekitar 20% pasokan LNG global mengalir melalui Selat Hormuz, terutama dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Namun, tidak seperti minyak mentah, saat ini tidak ada rute laut atau pipa alternatif untuk mengantarkan volume LNG ini ke pasar, sehingga gangguan pengiriman di selat tersebut berpotensi berdampak besar bagi pembeli LNG di seluruh dunia.

Meski kapasitas pencairan (likuefaksi) cadangan global terkadang melampaui volume ekspor yang bergantung pada jalur Hormuz, analisis para penulis menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2025, volume ekspor LNG yang melintasi selat tersebut tercatat melebihi kapasitas cadangan global selama sembilan tahun dari periode tersebut.

Pada puncaknya, "selisih tersebut mencapai sekitar 64 Bcm pada 2011, di mana ekspor LNG yang bergantung pada Selat Hormuz sekitar 109 Bcm dibandingkan dengan kapasitas cadangan yang tersedia di wilayah lain yang hanya sekitar 45 Bcm," ujar para penulis.

Di luar Selat Hormuz, laporan tersebut mencatat wilayah produsen lainnya masih akan menghadapi "titik sempit virtual" yang disebabkan oleh ketersediaan gas baku, kebutuhan pasar domestik, regulasi, atau bahkan kondisi komersial, sehingga diversifikasi pasokan menjadi sangat penting bagi pembeli LNG.

Terlepas dari risiko keamanan pasokan yang ditimbulkan oleh perdagangan LNG global, laporan IEF ini mengemukakan argumen kuat mengenai pertumbuhan permintaan yang berkelanjutan, sebagian didorong oleh pesatnya perkembangan infrastruktur digital, manufaktur maju, dan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menurut para penulis, permintaan daya pusat data global diperkirakan akan meningkat sebesar 165% dari tahun 2023 hingga 2030, yang memicu gelombang investasi pada kapasitas pembangkit listrik baru.

Pada 2024, gas alam menyumbang hampir 23% dari permintaan energi primer global. Laporan tersebut menyatakan gas dan LNG akan terus memainkan peran penting di pasar energi global, seiring meningkatnya permintaan baik dari negara-negara pengimpor mapan maupun yang sedang berkembang.

(ros)

No more pages