Logo Bloomberg Technoz

Keputusan ini membuat sentimen risk-off di pasar keuangan Asia kembali muncul. Suku bunga acuan AS lebih tinggi, artinya arus modal asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ke pasar AS. Imbal hasil atau yield yang lebih tinggi di pasar obligasi AS lebih menarik bagi investor.

Kedua, langkah pengetatan yang diambil The Fed berimbas pada penguatan dolar AS. Selain itu, posisi yuan offshore (CNH) yang seringkali menjadi penopang mata uang Asia juga belum banyak berubah. Biasanya pergerakan yuan punya pengaruh pada sentimen mata uang Asia, lantaran China merupakan ekonomi terbesar di kawasan, dan menjadi mitra dagang utama banyak negara. 

Jika yuan relatif stabil atau justru menguat, maka tekanan terhadap mata uang Asia lainnya dapat lebih ringan, karena investor tidak melihat adanya pelemahan luas pada mata uang regional. 

Pagi ini, gerak yuan offshore relatif stagnan dengan perubahan terbatas hanya 0,01%. Kondisi ini diperkuat dengan sikap bank sentral China yang belum memberikan sinyal kebijakan moneternya. Sehingga pelaku pasar cenderung bersikap wait and see di tengah merebaknya sentimen risk-off

Ketiga, pergerakan harga minyak masih berada di atas US$100/barel, tepatnya US$105,88/barel untuk Brent dan US$102,2 untuk West Texas Intermediate (WTI). 

Harga minyak yang persisten tinggi menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak di Benua Kuning, termasuk Indonesia. Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, logistik, produksi, dan kenaikan harga barang dan jasa, seperti yang terjadi pada kuartal II-2026. 

Bahkan, angka inflasi Indonesia pada Agustus naik menjadi 3,19% yoy dari bulan sebelumnya 2,88% yoy. 

Selain itu, kebutuhan devisa untuk membayar impor itu juga akan meningkat. Pada saat yang sama, dolar AS sedang menguat yang membuat tekanan jadi lebih berlipat. Pemerintah membutuhkan lebih banyak dolar untuk membeli minyak, sementara harga dolar AS terhadap mata uang domestik naik. 

Di tengah sentimen yang ada, rupiah diperkirakan masih akan tertekan di rentang Rp17.650-17.750/US$.

(riset/aji)

No more pages