Terus Menurun
Ardhasena menjelaskan pola peluruhan terlihat jelas dari jumlah gempa susulan yang tercatat setiap pekan. Pada minggu pertama, BMKG mencatat 5.011 kejadian gempa susulan.
Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, 3.158 kejadian pada minggu ketiga, dan 2.421 kejadian pada minggu keempat. Sementara pada minggu kelima, hingga data pemantauan terakhir, tercatat 864 kejadian.
Penurunan tersebut menunjukkan aktivitas gempa susulan terus mengalami pelemahan setelah gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026.
Namun, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan masyarakat tetap perlu memahami bahwa gempa susulan masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Menurutnya, berdasarkan analisis BMKG, gempa susulan saat ini dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori berdasarkan magnitudonya.
Pertama, gempa dengan magnitudo ≥5,0 tercatat sebanyak 26 kejadian atau sekitar 0,2% dari total gempa susulan. Gempa dalam kategori ini dapat dirasakan cukup luas dan berpotensi berdampak terhadap bangunan yang rentan.
Meski demikian, aktivitas gempa dengan magnitudo tersebut kini semakin jarang dan tidak lagi tercatat dalam satu minggu terakhir.
Kedua, gempa dengan magnitudo 4,0 hingga kurang dari 5,0 tercatat sebanyak 476 kejadian atau 3%. Gempa dalam kategori ini masih dapat dirasakan di wilayah yang cukup luas, tetapi potensinya menimbulkan kerusakan signifikan relatif kecil.
Frekuensi gempa pada kategori tersebut juga terus menurun setelah memasuki 4-5 minggu pascagempa utama.
Ketiga, gempa dengan magnitudo 3,0 hingga kurang dari 4,0 tercatat sebanyak 3.308 kejadian atau 20,9%. Gempa dalam kelompok ini umumnya hanya dirasakan secara lokal dan tidak menimbulkan kerusakan.
BMKG memperkirakan aktivitas gempa pada kategori tersebut masih dapat berlangsung hingga sekitar 6-7 minggu ke depan, dengan frekuensi terus meluruh.
Gempa Kecil Berbulan-bulan
Sementara itu, gempa dengan magnitudo di bawah 3,0 mendominasi aktivitas susulan. BMKG mencatat 11.993 kejadian atau sekitar 75,9% dari total gempa susulan.
Sebagian besar gempa dengan magnitudo kecil tersebut hanya terdeteksi oleh jaringan seismograf dan tidak dirasakan oleh masyarakat.
Aktivitas gempa pada kategori ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Wijayanto menegaskan estimasi tersebut bukan berarti BMKG dapat menentukan secara pasti kapan seluruh aktivitas gempa akan berakhir ataupun memprediksi waktu terjadinya gempa berikutnya.
"Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya. Masyarakat diimbau tetap mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi," tukasnya.
(dec/ros)




























