Logo Bloomberg Technoz

Mata dan Paru-paru Jadi Sasaran Utama

Namun, persoalan abu vulkanik tidak hanya menyangkut kendaraan dan mesin. Bagi manusia, paru-paru merupakan bagian tubuh yang paling perlu mendapat perlindungan. USGS menyebut sebagian partikel abu dapat berukuran sangat halus sehingga dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru.

Lebih lanjut, paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan batuk, iritasi dan rasa tidak nyaman di dada. Paparan juga dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menyebut paparan abu dan material vulkanik dapat mengganggu kemampuan bernapas. Gejala yang dapat muncul antara lain iritasi mata dan saluran pernapasan hingga kesulitan bernapas pada paparan tertentu.

Berangkat dari hal tersebut, saluran pernapasan menjadi jalur paparan yang paling penting untuk dicegah. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak dianjurkan mengurangi paparan langsung dengan tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi memungkinkan dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Apabila harus berada di luar ruangan atau melakukan pembersihan abu, USGS merekomendasikan penggunaan respirator berkemampuan filtrasi partikel, seperti N95 yang terpasang dengan baik. CDC juga merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk melindungi paru-paru dari abu vulkanik.

Bagian tubuh berikutnya yang perlu mendapat perhatian adalah mata. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi. Dengan karakter partikelnya yang keras dan abrasif, menggosok mata ketika terdapat abu justru dapat memperparah iritasi dan berpotensi melukai permukaan mata.

CDC merekomendasikan penggunaan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan abu terhadap mata. Masyarakat juga dianjurkan menghindari menyentuh atau menggosok mata ketika tangan maupun wajah telah terkena abu.

Kulit juga dapat mengalami iritasi akibat kontak dengan abu, maka bagian tubuh sebaiknya ditutup ketika berada di lingkungan dengan paparan abu. CDC menyarankan kulit tetap tertutup untuk mengurangi iritasi akibat kontak langsung dengan material tersebut.

World Health Organization (WHO) mencatat erupsi gunung api dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan kulit hingga gangguan pernapasan akut maupun kronis akibat abu dan gas vulkanik.

Antisipasi Ancaman Kesehatan

Langkah antisipasi tidak cukup hanya dengan menggunakan masker ketika abu sudah terlihat tebal. Perlindungan perlu dilakukan sejak masyarakat mulai mengetahui adanya potensi paparan.

Kementerian Kesehatan menyebutkan langkah antisipasi yang bisa dilakukan. Pertama, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kedua, apabila harus keluar, gunakan respirator yang sesuai untuk menyaring partikel. N95 atau respirator dengan standar setara dapat memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan masker biasa terhadap partikel abu.

Ketiga, lindungi mata menggunakan kacamata pelindung, terutama ketika berada di luar ruangan atau ketika melakukan pembersihan abu. Keempat, gunakan pakaian yang menutup kulit. Setelah berada di lingkungan berabu, pakaian tersebut sebaiknya dibersihkan agar partikel tidak terus terbawa ke dalam rumah.

Kelima, tidak menggosok mata jika terkena abu. Mata perlu ditangani dengan hati-hati karena partikel abrasif dapat memperparah iritasi apabila digosok. Terakhir atau keenam, pembersihan abu di lingkungan rumah juga perlu dilakukan dengan cara yang tidak membuat material kembali beterbangan. CDC mengingatkan masyarakat untuk menghindari paparan sebanyak mungkin dan menggunakan perlindungan pernapasan ketika membersihkan abu.

(mef/wep)

No more pages