Logo Bloomberg Technoz

Kilang-kilang China juga telah memborong minyak dari Kanada, Brasil, dan Argentina dalam beberapa minggu terakhir, sementara lonjakan pembelian turut mendongkrak harga minyak mentah ESPO dari pesisir Pasifik Rusia. 

Harga berbagai jenis minyak mentah Timur Tengah yang tersedia melonjak tajam karena memanasnya ketegangan antara AS dan Iran belakangan ini meredupkan prospek kelancaran aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Meski demikian, volume pembelian China belum kembali ke tingkat sebelum perang: saat ini angkanya bergerak menuju 10 juta barel per hari—berdasarkan estimasi akhir bulan lalu—dibandingkan dengan 12 juta barel per hari sebelum konflik terjadi.

Namun, peningkatan ini tidak serta-merta menandakan kebangkitan permintaan China dalam jangka panjang. Margin kilang yang membaik, dimulainya kembali ekspor bahan bakar, dan penambahan stok komersial mendorong aktivitas pembelian, sementara gangguan pasokan memaksa pembeli bersaing lebih agresif.

"Aktivitas pembelian yang kuat oleh China belakangan ini sebagian besar didorong oleh kilang-kilang yang memanfaatkan margin keuntungan yang cukup baik," kata Liao Na, pendiri perusahaan riset energi GL Consulting.

"Pengisian kembali stok secara aktif oleh pelaku pasar komersial juga turut membantu, tetapi hal ini belum tentu menjadi tanda adanya permintaan mendasar yang lebih kuat yang menopang pemulihan tersebut." 

Kilang-kilang swasta berskala kecil paling dirugikan oleh perubahan kondisi pasar ini. Mereka sebelumnya sangat bergantung pada pasokan minyak berharga diskon dari Iran dan Venezuela, yang kini tidak lagi tersedia.

Kilang-kilang independen skala kecil—yang dikenal dengan sebutan "teapots"—kesulitan bersaing dengan kilang milik negara yang memiliki modal lebih besar serta perusahaan independen berskala besar yang mampu mengajukan penawaran harga lebih tinggi.

China masih memiliki cadangan minyak mentah dalam jumlah besar, yang memberinya keleluasaan untuk mengurangi pembelian saat permintaan dan harga sedang naik. Menurut perkiraan, negara ini menyimpan setidaknya 1 miliar barel minyak mentah. 

Meski aktivitas pembelian oleh China terus pulih, batas struktural kemungkinan akan menahan laju pembelian dalam jangka panjang.

Ketua Sinopec, perusahaan penyulingan minyak terbesar di negara itu, menyatakan bulan lalu bahwa permintaan minyak China kemungkinan akan mencapai puncaknya pada 2025. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pesatnya adopsi kendaraan listrik telah mengurangi permintaan minyak sebesar sekitar 1,5 juta barel per hari pada kuartal kedua.

Kombinasi antara cadangan yang melimpah dan melambatnya permintaan struktural ini berarti China dapat tetap sangat responsif terhadap perubahan harga. Goldman Sachs Group Inc memperkirakan impor minyak mentah telah turun sekitar 35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"China akan terus berperan sebagai penyeimbang di pasar minyak mentah global dengan meredam lonjakan harga," ujar Daan Struyven, kepala riset minyak di Goldman, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

(bbn)

No more pages