Logo Bloomberg Technoz

“Sebenarnya penurunan trafik pesawat ini tidak hanya di RI, tren ini juga terjadi di region-region lain, silahkan cek data di IATA,” tambahnya.

Adapun, berdasarkan data IATA penurunan trafik penumpang secara global terus memburuk sejak tahun lalu hingga pertengahan tahun ini. 

Industri penerbangan mencatatkan penurunan Revenue Passenger Kilometers (RPK) sebesar 1,7% secara tahunan (year-on-year) pada Juni, yang tertekan oleh penurunan pasar domestik di negara-negara besar seperti Tiongkok (-5,2%) dan Amerika Serikat (-1,2%). 

Di wilayah Timur Tengah, trafik penerbangan bahkan sempat merosot tajam hingga 13,9% akibat dampak konflik geopolitik kawasan yang mengganggu penerbangan internasional.

Di sisi lain, kawasan Asia-Pasifik juga mengalami penurunan trafik penerbangan sebesar 2% akibat penyesuaian kapasitas penerbangan jarak pendek yang terkendala tingginya harga bahan bakar minyak. 

IATA mencatat bahwa lonjakan biaya operasional dan ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan industri penerbangan di berbagai belahan dunia.

“Jadi cerminan industri yang lesu sebenarnya karena harga minyak sangat mahal, ekonomi global yang setengah resesi, tingginya biaya operasional serta minat bepergian yang turun,” ungkap Bayu.

Di sisi lain, saat ditanya mengenai potensi peningkatan atau penurunan trafik pesawat sepanjang tahun ini, Bayu bilang pihaknya masih sulit memprediksi dua kemungkinan tersebut. 

"Masih sulit kita tentukan, masih sulit diramal, semua akan tergantung pada perekonomian, kalau kuat mungkin bisa naik," terangnya. 

Sebelumnya, penurunan trafik penumpang pesawat udara, baik yang domestik maupun mancanegara sudah diungkap oleh PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau In Journey Airport. 

BUMN tersebut mencatatkan kinerja operasional sepanjang 2025 hingga semester I-2026 yang belum impresif. 

Direktur Utama Muhammad Rizal Pahlevi mengatakan bahwa penurunan tersebut berasal dari keterbatasan kapasitas penerbangan. Hal itu tercermin dari penurunan jumlah armada aktif yang berkurang dari 433 unit pada 2024 menjadi hanya 368 unit pada 2025.

"Secara pergerakan, salah satunya, geopolitik sangat berpengaruh. Harga avtur juga. Saya kira ini satu isu yang juga dikeluhkan oleh airlines," ujar Rizal dalam rapat bersama Komisi VI DPR di Gedung Parlemen, Kamis (3/9/2026).

Rizal memaparkan bahwa eskalasi konflik geopolitik global dan lonjakan harga avtur berimbas langsung pada kemampuan operasional maskapai penerbangan. Situasi ini memicu penyusutan jumlah ketersediaan armada, yang pada akhirnya membatasi kapasitas angkut penumpang secara keseluruhan.

Berdasarkan data perusahaan, jumlah pergerakan pesawat sepanjang tahun lalu turun 0,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 1,19 juta dari semula sebanyak 1,91 juta pergerakan.

Kemudian, jumlah penumpang juga turun 1% yoy menjadi 158 juta orang dari 160 juta orang. Hanya angkutan kargo yang naik 1% menjadi 1,53 juta ton dari 1,51 juta ton.

Sementara itu, sepanjang semester I-2026, perusahaan mencatat pergerakan pesawat sebanyak 577 ribu kali atau masih naik sekitar 1% dari tahun sebelumnya. Namun, jumlah penumpang masih menyusut sekitar 2% menjadi 74 juta orang dari periode sebelumnya yang sebanyak 76 juta orang.

Dari hasil tersebut, total pendapatan usaha tercatat sebesar Rp10,23 triliun atau naik 3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih (net income) tercatat sebesar Rp619 miliar atau turun 19% secara tahunan.

"Alhamdulillah [pergerakan] pesawat ada peningkatan, tapi sejujurnya domestik kita masih cukup dalam dan internasional mulai bergerak," tutur Rizal.

(ain)

No more pages