Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Hari Ini: The Fed Jadi Gas, Harga Minyak Jadi Rem

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 September 2026 16:01

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan 0,13% di Rp17.637/US$, bersama mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau pada Jumat (4/9/2026). 

Dari kawasan, dolar Taiwan menguat paling tajam, disusul won Korea Selatan, baht Thailand, rupiah, yuan offshore, yuan China, dan dolar Singapura. Sebaliknya, yen Jepang kembali terkoreksi disusul peso Filipina dan ringgit Malaysia. 

Rupiah dan mata uang Asia. (Bloomberg)

Penguatan rupiah dan sebagian besar mata uang kawasan ditopang oleh penurunan harga minyak mentah yang terkoreksi 0,5% ke kisaran US$95/barel, serta meredanya tekanan dolar AS usai komentar bernada dovish dari Anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller. 


Pernyataan Waller kembali menghidupkan ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga, terutama bila data inflasi jinak dan ketenagakerjaan AS lesu. Dolar AS tercatat melemah 0,7% sepanjang pekan ini di tengah sentimen tersebut. 

Momentum ini menjadi angin segar bagi mata uang Asia. Penguatan mata uang kawasan membuat tekanan terhadap rupiah berkurang dan rupiah berhasil menguat di sisi terkuat dari kisaran Rp17.600-17.700/US$.