Menurut Andry, neraca primary income juga perlu diperhatikan karena mencerminkan antara lain pembayaran dividen dan income repatriation. Dalam beberapa periode terakhir, komponen tersebut mengalami defisit yang cukup tinggi atau meningkat.
“Kalau neraca perdagangan barangnya, kemudian surplusnya mengecil, tentu saja semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income, dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar,” ujarnya.
Andry mengatakan pelebaran defisit transaksi berjalan perlu diimbangi dengan surplus yang besar pada neraca finansial atau financial account. Dengan demikian, arus modal yang masuk ke Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan dan stabilitas rupiah.
Dia menyebut dukungan terhadap neraca finansial dapat berasal dari investasi langsung atau direct investment maupun investasi portofolio, terutama di pasar saham dan obligasi.
“Ketahanan dari sisi atau stabilitas rupiah tentu saja akan juga ditopang dari seberapa besar neraca aliran modal itu masuk ke Indonesia,” kata Andry.
Sebelumnya, BI mengumumkan transaksi berjalan Indonesia tercatat defisit US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jauh melebar ketimbang defisit kuartal sebelumnya yakni US$ 3,6 miliar (1% PDB).
BI menyebut transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan non-migas. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
"Surplus neraca perdagangan non-migas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026," papar laporan BI.
(ell)




























