Neraca Dagang Defisit Beruntun, Ekonom Soroti Soal Impor Energi
Mis Fransiska Dewi
04 August 2026 16:28

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom berpandangan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia yang mengalami defisit dua bulan berturut-turut merupakan sinyal peringatan lantaran Indonesia masih mengalami persoalan struktural yang sudah lama dihadapi, yakni ketergantungan terhadap impor energi.
Diketahui, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Sebelumnya, pada Mei 2026, neraca perdagangan RI juga mengalami defisit US$1,61 miliar, menjadi yang pertama kalinya setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak 6 tahun terakhir, tepatnya Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$89,1 juta pada April 2026.
Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan tekanan terhadap neraca dagang terjadi karena defisit migas yang membengkak hingga sekitar US$3,49 miliar.
Dia menilai kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, ditambah meningkatnya kebutuhan impor minyak mentah dan hasil minyak di dalam negeri, membuat laju impor jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Ketika impor meningkat lebih dari 34% sementara ekspor hanya tumbuh sekitar 9%, maka surplus nonmigas yang sebenarnya masih kuat tidak lagi cukup untuk mengompensasi defisit energi.































