Teheran menuding AS menyerang sebuah upacara pernikahan di Kota Sirik, wilayah pesisir selatan Iran. Lembaga Bulan Sabit Merah Iran mengatakan sedikitnya empat orang tewas dan sekitar 67 lainnya terluka. Organisasi tersebut sebelumnya menyebut jumlah korban tewas mencapai lima orang dan mengatakan jumlah itu masih dapat bertambah.
“Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil,” kata Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mengawasi pasukan Amerika di Timur Tengah.
Pejabat Iran menyamakan insiden tersebut dengan serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Kota Minab pada hari-hari awal konflik. Serangan itu menewaskan sekitar 120 anak dan kini tengah diselidiki oleh militer AS.
“Kekejaman ini tidak dapat dipisahkan dari rangkaian kekejaman yang mendahuluinya di Minab,” tulis Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei di X. “Iran akan merespons kejahatan biadab ini dengan tegas.”
Kembali pecahnya permusuhan mengakhiri secara mendadak aktivitas militer yang relatif rendah selama sebulan terakhir. Dalam periode tersebut, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah pulih hingga sekitar setengah dari level sebelum perang. Pemulihan arus tersebut kini terancam terhenti, yang dapat mengganggu pasokan minyak, gas, dan komoditas lainnya serta mendorong kenaikan harga energi dan inflasi.
Harga minyak mentah Brent melonjak setelah pertempuran kembali terjadi dan sempat diperdagangkan hingga US$97 per barel. Kontrak acuan internasional tersebut telah naik sekitar 58% sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran mengenai dampak lanjutan terhadap perekonomian ketika musim dingin di belahan bumi utara mendekat.
Harga gas alam juga naik, sementara harga solar di pompa bensin AS meningkat ke level tertinggi sejak mencapai puncaknya pada April, pada fase awal perang.
“Pertempuran terus berlanjut tanpa akhir—dan tanpa pemenang—yang terlihat,” tulis ekonom Bloomberg, termasuk Dina Esfandiary, dalam sebuah catatan pada Rabu. “Timur Tengah yang lebih luas kini menjadi arena perang. Dan lonjakan harga minyak membebani perekonomian global.”
Kementerian Luar Negeri Iran menyerukan negara-negara di kawasan untuk berhenti mengizinkan AS menggunakan fasilitas dan wilayah mereka untuk melancarkan serangan. Kementerian tersebut mengatakan serangan AS juga menghantam infrastruktur telekomunikasi di Iran.
Baik AS maupun Iran belum menunjukkan kesediaan untuk kembali ke meja perundingan sejak runtuhnya kesepakatan damai sementara yang disetujui kedua pihak pada Juni di Islamabad.
Komando Pusat AS mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mencoba menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika, menurut pernyataan yang diunggah di X pada Selasa malam.
Beberapa jam kemudian, Iran mengatakan pasukannya melancarkan “operasi yang menentukan” terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut, menurut kantor berita semiresmi Tasnim. Teheran mengklaim serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait, Yordania, Bahrain, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA). UEA belum memberikan komentar, sementara otoritas di negara-negara lainnya mengatakan mereka berhasil mencegat serangan yang masuk.
Militer AS menyerang dua kapal tanker Iran berdasarkan kebijakan baru “tanker untuk tanker” yang disetujui Trump, Axios melaporkan dengan mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Serangan tersebut terjadi sekitar sehari setelah dua kapal supertanker minyak yang berupaya keluar dari selat dihantam proyektil secara beruntun, menurut konsultan keamanan maritim Marisks.
Sebelumnya, AS berfokus untuk menghentikan kapal-kapal Iran yang berupaya menembus blokade laut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada wartawan di sela-sela pertemuan para menteri keuangan G-20 di Asheville bahwa para pemimpin Iran “panik” menghadapi masalah ekonomi negara tersebut. Ia memperkirakan pada suatu titik mereka akan siap merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Meski Bessent telah menjanjikan “serangan ekonomi” terhadap Iran dan mitra dagangnya, negara-negara yang memiliki hubungan dengan Teheran sejauh ini mengabaikan ancaman tersebut dan para analis menilai tindakan AS belum terlalu berdampak. Namun, blokade laut AS masih diberlakukan dan terus menekan ekspor energi Iran.
Pertempuran juga semakin meluas ke luar Iran. Israel secara rutin menyerang target Hizbullah di Lebanon selatan sepanjang pekan ini, dengan menuduh kelompok yang didukung Iran tersebut meluncurkan drone ke arah pasukannya.
Sementara itu, Hamas mengatakan gencatan senjata yang sudah rapuh di Gaza terancam runtuh setelah Israel melakukan serangan jauh ke dalam wilayah Palestina pada Selasa untuk menangkap seorang tokoh senior kelompok tersebut.
(bbn)






























