Logo Bloomberg Technoz

Walhasil, dengan tongkang berkapasitas 7.500—10.000 ton yang hanya mengangkut batu bara 3.000 ton, biaya pengangkutan naik menjadi sekitar US$10/ton.

Sebuah tongkang yang mengangkut batu bara di Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

“Mengurangi volume muatan pada tongkang berkapasitas 7.500—10.000 ton menjadi 3.000 ton untuk menyesuaikan dengan draf yang lebih rendah pada dasarnya dapat menggandakan biaya dalam beberapa kasus, kata seorang pedagang. Biaya standar untuk mengangkut batu bara dari tambang di bagian hulu sungai dapat mencapai US$10/ton,” tulis Argus Media dalam risetnya, Rabu (2/9/2026).

Dicermati China

Argus Media menyatakan pelaku pasar dari China dan India bakal mencermati kondisi jalur pengangkutan batu bara tersebut dalam beberapa bulan mendatang.

Terlebih, terdapat potensi pengiriman tertunda dan memperketat ketersediaan batu bara Indonesia di pasar seaborne.

Selain itu, Argus Media mencatat sejumlah produsen batu bara di wilayah sekitar sungai Barito menyatakan keadaan kahar (force majeure) atas pengiriman, sebab terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.

Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.

Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara di produksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.

“Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut,” ungkap Argus Media.

El Niño merupakan bagian dari fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di kawasan tengah dan timur Samudra Pasifik tropis.

Perubahan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer sehingga mengubah pola curah hujan di berbagai belahan dunia.

Dampaknya berbeda di setiap wilayah, mulai dari kekeringan berkepanjangan, gelombang panas, hingga hujan ekstrem dan banjir.

World Economic Forum (WEF) menilai El Niño 2026 tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai fenomena meteorologi.

Organisasi tersebut menyebut El Niño sebagai systemic shock atau guncangan sistemik karena dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor sekaligus, mulai dari ketahanan pangan, energi, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, hingga rantai pasok global.

Menurut WEF, risiko tersebut semakin besar karena El Niño kali ini terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global yang membuat suhu dasar bumi makin tinggi.

Akibatnya, dampak cuaca ekstrem berpotensi menjadi lebih intens dibandingkan kejadian El Niño pada masa lalu.

Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor batu bara mengalami tren penguatan dari sisi nilai meski mengalami penurunan volume selama periode Januari—Juli 2026.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor batu bara meningkat 4,75% dari US$13,81 miliar menjadi US$14,47 miliar. 

Namun, peningkatan nilai ekspor tersebut bertolak belakang dengan volume pengiriman batu bara ke pasar internasional yang turun 6,17%, yaitu dari 214,71 juta ton menjadi 201,47 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages