Dari dalam negeri, rupiah sejatinya terbebani juga oleh kinerja neraca perdagangan yang hanya mendulang surplus tipis. Nilai ekspor Jul tercatat US$167,03 miliar sedangkan impor Rp163,33 miliar.
Di sisi lain, angka inflasi juga kembali meninggi ke 3,19% yoy.
Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede, inflasi yang masih berada di 3,19% secara tahunan belum membutuhkan kenaikan suku bunga. Angka ini masih berada dalam rentang target BI sebesar 2,5±1%.
Namun, ia menambahkan jika harga minyak kembali berada di sekitar atau di atas US$90/barel, dibarengi dengan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, serta tingginya arus modal keluar di pasar keuangan domestik, maka BI kemungkinan akan mempertimbangkan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps).
(dsp/aji)






























