Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak ke Atas, Gerak Rupiah Berpotensi Terbatas

Tim Riset Bloomberg Technoz
01 September 2026 07:50

Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar spot hari ini (1/9/2026) berpotensi tertekan, seiring harga minyak Brent kembali dibanderol di kisaran US$90,49/barel, naik 1,32%. 

Kenaikan harga minyak mentah dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas. Sejumlah pejabat AS dan Iran, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, mengatakan mereka memperkirakan konflik tersebut akan berlangsung selama berbulan-bulan. 

Iran dilaporkan menargetkan pangkalan-pangkalan udara AS di Yordania, meskipun media lokal melaporkan bahwa rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan sebelum menyebabkan kerusakan. Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan niatnya untuk melumpuhkan perekonomian Iran. 


Kondisi ini kembali menimbulkan kekhawatiran adanya gangguan di Selat Hormuz. Terlebih, pasukan AS sempat menyerang sebuah pulau di Selat Hormuz, dan Iran membalasnya dengan serangan terhadap Uni Emirat Arab dan Yordania. Gangguan pada jalur distribusi minyak ini menyebabkan premi risiko minyak kembali meningkat. 

Sebagian mata uang Asia yang sudah buka menguat secara terbatas, seperti won Korea Selatan 0,22%, disusul yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan China. Sebaliknya, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong tercatat melemah hari ini. 

Pergerakan mata uang Asia, Selasa (1/9/2026). (Bloomberg)