Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, perkiraan angka-angka tersebut bisa sangat bervariasi dan fluktuatif. Sejumlah pihak pemantau dan pejabat Amerika Serikat (AS) mengindikasikan volume yang bahkan lebih tinggi, walaupun situasi keamanan tetap rawan.

Presiden Trump pada Kamis menyatakan bahwa 24 kapal melintasi Selat Hormuz pada malam sebelumnya—tanpa memerinci jenis kapalnya—sementara kelompok Angkatan Laut Inggris terus melaporkan adanya serangan terhadap kapal-kapal dalam beberapa hari terakhir.

Salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan ini adalah pendapatan tertinggi dalam sejarah pasar kapal tanker raksasa atau very large crude carrier (VLCC), yang memberikan insentif tambahan bagi pemilik kapal untuk melintasi selat tersebut.

Bagaimanapun juga, terdapat tanda-tanda bahwa para produsen di kawasan tersebut telah meningkatkan pengiriman minyak dalam beberapa hari terakhir.

Untuk merealisasikannya, sejumlah kapal tanker melakukan perjalanan 'ulang-alik' (shuttle runs) guna mengangkut minyak hingga ke titik tepat di luar Teluk Persia.

Setibanya di sana, muatan minyak tersebut dipindahkan ke kapal-kapal tanker lain yang telah menunggu dan enggan melintasi selat itu secara langsung.

Saat ini, seluruh pemasok utama di kawasan tersebut—kecuali Iran—menjual minyak mereka untuk diambil di lokasi di luar Selat Hormuz.

VLCC bersandar di terminal minyak Arab Saudi di Teluk Persia antara tanggal 19 dan 25 Agustus./Copernicus Sentinel-ESA

"Dalam beberapa hari terakhir, tampaknya makin banyak minyak yang keluar dari Selat Hormuz," ujar Georgios Sakellariou, seorang analis angkutan di Signal, perusahaan pelayaran dan analitik.

"Jika tren ini berkelanjutan, harga minyak mentah akan tetap rendah, meskipun belakangan ini angka tersebut masih berada di kisaran mendekati US$85/barel."

Kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$88/barel pada Kamis, menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni—saat gencatan senjata sementara masih membantu kelancaran pengiriman.

Upaya diplomatik terbaru untuk mencapai kesepakatan terkait dengan Selat Hormuz juga turut menahan kenaikan harga pekan ini.

Pimpinan perusahaan penyulingan minyak terbesar di Eropa pekan ini menyatakan pandangan pesimistis terhadap prospek harga minyak mentah, sebagian karena adanya aliran minyak yang diam-diam keluar dari Selat Hormuz.

Lonjakan kedatangan kapal pada akhir pekan lalu memungkinkan peningkatan volume pemuatan, tetapi belum jelas apakah kapal-kapal tambahan telah masuk dalam beberapa hari terakhir untuk mempertahankan laju tersebut pada pekan-pekan mendatang.

Citra satelit yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa pada Selasa, Arab Saudi memiliki jumlah kapal tanker terbanyak dalam beberapa minggu terakhir di fasilitas ekspornya di kawasan tersebut.

Sehari sebelumnya, aktivitas pemuatan dari pelabuhan Irak di wilayah itu bahkan sempat melampaui tingkat sebelum perang.

Produsen berskala lebih kecil seperti Qatar dan Kuwait juga mulai meningkatkan aktivitas pengiriman, sehingga menambah momentum tersebut.

Perlu dicatat, hal ini tidak berarti total ekspor Arab Saudi meningkat. Peningkatan pengiriman dari Teluk Persia terjadi bersamaan dengan penurunan dari fasilitas mereka di Laut Merah.

Namun pada saat yang sama, kerajaan tersebut memuat lebih banyak minyak ke kapal tanker dari Sidi Kerir—sebuah pelabuhan di pesisir Mediterania Mesir tempat mereka memiliki fasilitas penyimpanan—sehingga mempersulit pelacakan pengiriman minyak negara tersebut.

Belum jelas pula apakah seluruh ekspor dari kawasan Teluk Persia tersebut sudah dalam perjalanan menuju pelanggan.

Minyak tersebut masih harus dipindahkan ke kapal-kapal yang menunggu—biasanya di dekat pelabuhan Sohar di Oman atau Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA)—sebuah proses yang bisa memakan waktu berhari-hari.

Tankertrackers.com menghitung pengiriman ke pasar global saat kapal melintasi garis blokade AS, dengan memantau sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) kapal karena adanya keterbatasan akses terhadap citra satelit yang aktual.

Berdasarkan hal tersebut, volume pengiriman selama tujuh hari terakhir tercatat hanya sebesar 3,7 juta barel per hari, menurut Samir Madani, salah satu pendiri perusahaan tersebut.

Peningkatan Aktivitas Pemuatan

Peningkatan aktivitas pemuatan yang terpantau melalui satelit telah terjadi di berbagai negara produsen kawasan Teluk dalam beberapa hari terakhir.

Hal ini menambah lonjakan volume pengiriman dari Uni Emirat Arab, yang merupakan produsen besar pertama di kawasan tersebut yang secara signifikan meningkatkan ekspornya.

Aktivitas pemuatan dari fasilitas ekspor Irak di Teluk Persia melonjak pekan ini, dengan tujuh kapal tanker mengangkut muatan negara tersebut pada Senin.

Kapal-kapal tersebut memiliki kapasitas angkut sekitar 13 juta barel, berdasarkan dimensinya. Sebagai perbandingan, kondisi normal sebelum perang biasanya melibatkan enam kapal tanker yang melakukan pemuatan di delapan dermaga pada waktu bersamaan.

Tujuh kapal tanker minyak mentah sedang berlabuh di Terminal Minyak Basra, Irak, pada 24 Agustus. Sumber: Copernicus Sentinel/ESA

Peningkatan ini juga didukung oleh peningkatan dari dua produsen kecil di kawasan ini – Qatar dan Kuwait.

Kedua negara, yang mengekspor minyak sebanyak 2 juta barel per hari sebelum pecahnya perang, telah berhasil mendapatkan pengiriman kembali ke 70% dari tingkat sebelum konflik, menurut para pedagang, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak diperbolehkan berbicara kepada media.

Bloomberg telah menanyakan semua produsen utama Teluk tentang aktivitas pemuatan mereka selama seminggu terakhir. Tidak ada yang menjawab.

Sementara itu, ekspor Iran masih terhambat oleh blokade yang diterapkan kembali oleh AS ketika gencatan senjata gagal.

Tantangan utama saat ini adalah meningkatkan ekspor bahan bakar seperti solar dan avtur. Sekitar 1,6 juta barel per hari dari kapasitas penyulingan di wilayah tersebut masih offline, peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya, menurut data dari IIR Energy.

Meskipun industri pelayaran minyak mentah memiliki satu perusahaan pelayaran dominan yang membantu mengatur arus, yaitu perusahaan asal Korea Selatan, Sinokor, namun hal tersebut tidak terjadi pada pasar bahan bakar, yang juga memerlukan kapal-kapal kecil untuk mengumpulkan kargo.

(bbn)

No more pages