Logo Bloomberg Technoz

Pada kuartal kedua, surplus perdagangan barang Indonesia turun tajam dari sekitar US$8,2 miliar menjadi US$1,3 miliar. Surplus non-migas memang masih sekitar US$11,5 miliar, tetapi posisi ini tak lagi cukup besar untuk mengimbangi defisit migas yang membengkak. 

Defisit perdagangan migas tercatat melebar menjadi US$10,18 miliar dari sebelumnya hanya US$5,09 miliar. Pelebaran ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia dengan adanya konflik di Timur Tengah. 

Di sisi lain, tekanan juga datang dari neraca jasa. Defisit jasa melebar dari US$4,4 miliar menjadi US$5,9 miliar. Di sektor perjalanan, penerimaan dari wisatawan mancanegara sebenarnya meningkat seiring kenaikan jumlah kunjungan.

Akan tetapi, pengeluaran warga Indonesia di luar neger juga tercatat meningkat lebih cepat, salah satunya disebabkan adanya periode musim haji. 

Sementara itu, defisit pendapatan primer naik dari US$9,1 miliar menjadi US$9,7 miliar, terutama akibat meningkatnya pembayaran imbal hasil investasi kepada investor asing.

Pembayaran ini meningkat dari US$6,3 miliar jadi US$6,5 miliar. Sedangkan pembayaran imbal hasil investasi portofolio naik dari US$3,4 miliar mebjadi US$4,1 miliar. 

Ini sebenarnya konsekuensi yang tak terhindarkan jika investasi asing di dalam negeri semakin besar. Modal yang masuk hari ini tentu kewajiban pembayaran di masa yang akan datang. 

Tertopang 'Uang Panas'

Hal ini terlihat dari data transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus US$11,95 miliar berbalik drastis dari defisit US$4,77 miliar pada kuartal sebelumnya. Investasi langsung juga memberi kontribusi positif. 

Pembalikan ini didukung oleh surplus investasi langsung yang terjaga, serta peningkatan tajam surplus investasi portofolio, serta penyempitan defisit investasi lainnya. 

Surplus investasi juga naik dari US$2,3 miliar menjadi US$2,8 miliar. Sementara arus masuk penanaman modal asing naik jadi US$4,9 miliar dari US$3,8 miliar. 

Peningkatan surplus investasi portofolio atau hot money terutama didorong oleh derasnya arus masuk asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan kembalinya arus masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), juga adanya dukungan dari penerbitan obligasi global. 

"Dalam jangka menengah hingga panjang, keberlanjutan arus modal akan bergantung pada efektivitas implementasi reformasi struktural untuk memperkuat fundamental makroekonomi Indonesia, meningkatkan kepercayaan investor, dan memperbaiki iklim invetasi," sebut Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata (BNLI), dalam catatannya. 

Ia menambahkan, faktor eksternal, termasuk perkembangan ketegangan perdagangan global dan risiko geopolitik, juga akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan dinamika arus modal. 

Di tengah ketidakpastian geopolitik, Faisal memperkirakan arus masuk portofolio diperkirakan tetap moderat, sementara rupiah berpotensi melanjutkan volatilitasnya. 

"Bank Indonesia kemungkinan masih perlu menggunakan cadangan devisa untuk mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah," katanya. 

Ia memperkirakan, cadangan devisa turun menjadi US$143 miliar hingga US$147 miliar pada akhir 2026, dari posisi US$156,47 miliar pada akhir 2025.

(dsp/aji)

No more pages