Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat, Jadi Runner-Up Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
20 August 2026 15:18

Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Kamis (20/8/2026) dengan penguatan 0,49% ke Rp17.746/US$, sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menghijau. 

Penguatan rupiah dan mata uang kawasan tertopang oleh depresiasi dolar Amerika Serikat (AS), yang mulai kehilangan pamornya. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali terpangkas ke 98,78. 

Baht Thailand menguat paling tajam disusul rupiah, ringgit Malaysia, peso Filipina, rupee India, dan yuan offshore. Sebaliknya, won Korea Selatan melemah paling dalam bersama yen Jepang. 

Rupiah dan mata uang Asia hari ini menguat, tertopang oleh risalah FOMC dan langkah Menteri Keuangan AS yang akan membeli obligasi AS. (Bloomberg)

Namun begitu, harga minyak Brent masih bertahan tinggi di US$93,18/barel masih menyisakan kekhawatiran akan berlanjutnya inflasi.

Sementara dari sisi eksternal, rebound obligasi US Treasury tenor panjang mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar mencermati perkembangan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara mengejutkan mengumumkan pembelian kembali obligasi jangka panjang untuk menahan kenaikan yield yang sebelumnya telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.