Meski pengiriman terhambat, pelaku pasar mendapat angin segar dari kabar bahwa produksi minyak OPEC+ meningkat pada Juli, dan menandai kenaikan dalam dua bulan beruntun. Artinya, kendala saat ini lebih banyak disebabkan jalur distribusi daripada pasokan. Sehingga, jalur distribusi alternatif dapat menjadi pilihan, seperti upaya membuka jalur terbatas melalui rute Iran-Oman sempat meningkatkan harapan terhadap kelancaran pengiriman.
Bagi rupiah, sentimen eksternal dari pelemahan dolar AS, diperkuat dengan keputusan BI yang mempertahankan BI Rate 5,75%. Keputusan yang sesuai ekspektasi pasar setidaknya menghilangkan ketidakpastian mengenai potensi pengetatan tambahan.
Paling tidak, keputusan BI menahan BI Rate di 5,75% juga memberi sinyal bahwa bank sentral RI cukup percaya diri terhadap kondisi rupiah saat ini. Meski rupiah sepanjang tahun melemah 6,4% terhadap dolar AS, tetapi volatilitasnya pada Agustus relatif terjaga di kisaran Rp17.800-17.900/US$.
Pergerakan ini sejalan dengan proyeksi yang dihimpun Bloomberg. Pada kuartal III-2026, rupiah diperkirakan relatif lebih jinak dengan median estimasi di level Rp17.850/US$ sebelum akhirnya akan sedikit menguat pada kuartal IV-2026 ke Rp17.800/US$.
(dsp/aji)





























